Custom Search
anatomy - histology - veterinary - cells - biotechnology

peMbanGkit LisTriK TeNagA KotoRan SaPi

Biogas yang dihasikkan kotoran sapi yang diperam telah banyak dipakai sebagai bahan bakar. Tapi, bagaimana jika kotoran sapi dipakai untuk menghasilkan listrik? Penelitian di Ohio menunjukkan bahwa beberapa mikroorganisme yang ditemukan di dalam kotoran sapi mungkin menjadi sumber energi listrik yang sangat besar.Hasil percobaan menunjukkan, mikroba dalam cairan yang diekstrak dari rumen - bagian terbesar perut sapi - dan difermentasi sebanyak setengah liter menghasilkan listrik 600 milivolt. “Sekitar setengah dari tegangan yang diperlukan sebuah baterai berukuran AA,” kata Ann Christy, peneliti pendamping dan associate professor rekayasa makanan, pertanian, dan biologi di

Ohio
State
University
.Selain dalam cairan rumen, mikroorganisme juga ditemukan pada kotoran sapi. Bahkan, dalam eksperimen serupa para peneliti menggunakan kotoran sapi secara langsung untuk menghasilkan energi fuel cell.Menggunakan kotoran sapi sebagai sumber energi bukanlah ide yang baru. Beberapa petani telah menggunakan gas methan yang dihasilkannya untuk bahan bakar. Tapi, mengubah methan menjadi listrik membutuhkan alat yang mahal. Seorang petani di Kalifornia saja harus menyediakan 280 ribu dollar AS untuk mengoperasikan sistem pengubah methan menjadi listrik.Sedangkan penelitian di Ohio memperlihatkan bagaimana listrik dapat dihasilkan dari mikroorganisme dalam cairan rumen hasil pemecahan selulosa, karbohidrat kompleks yang merupakan komponen utama makanan sapi. Nah, pemecahan komponen inilah yang menghasilkan listrik. Para peneliti menyampaikan temuannya pada pertemuan nasional American Chemical Society di Washington DC, 31 Agustus. Christy dan Rismani-Yazdi memimpin penelitian ini bersama koleganya dari Ohio State University, Olli Touvinnen, seorang profesor mikrobiologi dan Burk Dohenty, seorang profesor ilmu hewan.Mereka mengumpulkan cairan rumen melalui cannula, tabung yang ditanam untuk menghubungkan kulit dengan perut sapi. Dua buah tabung kaca steril dipakai untuk menyimpan cairan masing-masing setinggi 30 centimeter dan berdiameter 15 centimeter.Cairan dalam tabung diberi pembatas dengan material khusus yang dapat dilalui proton saat bergerak dari ruangan bermuatan negatif (anoda) ke positif (katoda). Pergerakan proton yang diikuti elektron melalui piranti elektronika dan kabel yang menghubungkan dua elektroda menghasilkan arus listrik. Bagian anoda berisi cairan rumen dan selulosa sebagai sumber makanan mikroorganisme. Sedangkan bagian katoda diisi potassium ferricyanide, zat kimia yang berguna sebagai agen oksidasi untuk melengkapi rangkaian listrik. Rangkaian tersebut menghasilkan listrik 0,58 volt. Sesudah empat hari, tegangannya turun menjadi 0,2 volt. Saat para peneliti menambah selulosa baru, tegangannya naik kembali.Masih dalam rangkaian penelitian ini, Christy dan Rismani-Yazdi menggunakan kotoran sapi secara langsung untuk membangkitkan listrik. Fuel cell yang dibentuk menghasilkan tegangan 300-400 milivolt. Pada penelitian ini, para peneliti tidak membutuhkan tambahan selulosa untuk memberi makan mikroba. “Kedua penelitian menunjukkan bahwa kotoran sapi suatu ketika bisa menjadi sumber listrik terbarukan yang murah dan cukup besar,” kata Christy. Meskipun demikian masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa fuel cell bertenaga kotoran sapi dapat menghasilkan listrik yang besar. Paling tidak dengan penelitian ini telah terbukti bahwa caran rumen dapat menasilkan listrik.Para peneliti berharap suatu ketika para petani dapat menggunakan limbah peternakannya untuk menghasilkan sumber pembangkit listrik yang besar untuk keperluan sehari-hari.

Read more.....

Sistem Pencernaan Ruminansia

Pencernaan adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia yangdialami bahan makanan selama berada di dalam alat pencernaan. Prosespencernaan makanan pada ternak ruminansia relatif lebih kompleksdibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya.

Perut ternak ruminansia dibagi menjadi 4 bagian, yaitu retikulum (perutjala), rumen (perut beludru), omasum (perut bulu), dan abomasum (perut sejati).Dalam studi fisiologi ternak ruminasia, rumen dan retikulum sering dipandangsebagai organ tunggal dengan sebutan retikulorumen. Omasum disebut sebagaiperut buku karena tersusun dari lipatan sebanyak sekitar 100 lembar. Fungsiomasum belum terungkap dengan jelas, tetapi pada organ tersebut terjadipenyerapan air, amonia, asam lemak terbang dan elektrolit. Pada organ inidilaporkan juga menghasilkan amonia dan mungkin asam lemak terbang(Frances dan Siddon, 1993). Termasuk organ pencernaan bagian belakanglambung adalah sekum, kolon dan rektum. Pada pencernaan bagian belakangtersebut juga terjadi aktivitas fermentasi. Namun belum banyak informasi yangterungkap tentang peranan fermentasi pada organ tersebut, yang terletak setelahorgan penyerapan utama. Proses pencernaan pada ternak ruminansia dapatterjadi secara mekanis di mulut, fermentatif oleh mikroba rumen dan secarahidrolis oleh enzim-enzim pencernaan.

Pada sistem pencernaan ternak ruminasia terdapat suatu proses yangdisebut memamah biak (ruminasi). Pakan berserat (hijauan) yang dimakanditahan untuk sementara di dalam rumen. Pada saat hewan beristirahat, pakanyang telah berada dalam rumen dikembalikan ke mulut (proses regurgitasi),untuk dikunyah kembali (proses remastikasi), kemudian pakan ditelan kembali(proses redeglutasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh enzim-enzimmikroba rumen. Kontraksi retikulorumen yang terkoordinasi dalam rangkaianproses tersebut bermanfaat pula untuk pengadukan digesta inokulasi danpenyerapan nutrien. Selain itu kontraksi retikulorumen juga bermanfaat untukpergerakan digesta meninggalkan retikulorumen melalui retikulo-omasal orifice(Tilman et al. 1982).

Di dalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya.Mikroba rumen dapat dibagi dalam tiga grup utama yaitu bakteri, protozoa danfungi (Czerkawski, 1986). Kehadiran fungi di dalam rumen diakui sangatbermanfaat bagi pencernaan pakan serat, karena dia membentuk koloni padajaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding seltanaman sehingga pakan lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen.

Bakteri rumen dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat utama yangdigunakan, karena sulit mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya.Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya sebab mudahdilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa jenis bakteri yang dilaporkanoleh Hungate (1966) adalah : (a) bakteri pencerna selulosa (Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus, Butyrifibriofibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio fibrisolvens,Bakteroides ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati(Bakteroides ammylophilus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica, (d) bakteri pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis).

Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu: Holotrichsyang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yangfermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulutumumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna (Arora, 1989).

Read more.....

Optimasi Kondisi Alkoholisis Lipase dari Ekstrak Kecambah Biji Koro Benguk

Bernadetha Florida Asri Dalung. 03.11.105.055. 2008. Optimasi Kondisi Alkoholisis Lipase dari Ekstrak Kecambah Biji Koro Benguk (Mucuna pruriens L.,) untuk Sintesa Ester Metil Asam Lemak (EMAL), dibawah bimbingan Ir. I. DW. Gde Mayun Permana, MS sebagai pembimbing I dan ID. A. G. Lidartawan, STP. MP sebagai pembimbing II.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum (waktu, suhu, pH, dan konsentrasi lipase) aktivitas alkoholisis lipase dari ekstrak kecambah biji koro benguk (Mucuna pruriens L.,). Penelitian dilakukan dengan mengekstrak kecambah biji koro benguk untuk mendapatkan enzim lipase kemudian dilakukan pengujian aktivitas alkholisis lipase pada berbagai kondisi waktu reaksi, suhu reaksi, pH reaksi dan konsentrasi lipase. Dari masing-masing perlakuan diulang dua kali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lipase dari ekstrak kecambah biji koro benguk mempunyai kemampuan sebagai biokatalis sintesa Ester Metil Asam Lemak (EMAL) dan kondisi optimum pembentukan EMAL yaitu pada konsentrasi enzim lipase 3%, suhu 45oC, pH 6 dan waktu reaksi 30 menit dengan produksi EMAL adalah 98,08%.

Kata Kunci: kacang Koro Benguk (Mucuna Pruriens L.,) optimasi kondisi alkoholisis, enzim Lipase, Ester Metil Asam Lemak (EMAL).

-----------------------------------------------------------------------------------------------

Bernadetha Florida Asri Dalung 03.11.105.055. 2008. Optimum Condition 0f Alcoholisis Lipase of Extract Sprout Seed of Velvet Bean ( Mucuna pruriens L.,) to synthesize the Fatty Acids Methyl Ester (FAME), under the advisors of Ir. I. DW. Gde Mayun Permana, MS and ID. A. G. Lidartawan, STP.MP.

ABSTRACT

The aim of the research was to find out the optimum conditions (times, temperature, pH, and concentration of lipase) of the activity of alcoholisis lipase of sprout extract of velvet bean. It,s was done by extracting the velvet bean to get the lipase enzyme. The activity of alcoholisis lipase of sprout extract of velvet bean was examined in any condition such as on time reaction, temperature reaction, pH reaction and concentration of lipase crude. The treatment was repeated twice.

The result of the research indicated that lipase of extract sprout of velvet bean had ability as catalysis of Fatty Acid Methyl Ester (FAME) and had optimum condition of forming of fatty acids methyl ester sintesa on concentration of crude lipase 3%, temperature 45oC, pH 6 and reaction time 30 minutes, and the production of FAME was 98,08%.

Key word : Velvet Bean (Mucuna Pruriens L.,), optimasi condition alcoholisis, Enzyme Lipase, Fatty Acids Methyl Ester ( FAME).

Read more.....

Kajian Aspek Mikrobiologis dalam Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan

NILA PRAHARA MAHARANI. 0311105043. Study of Microbiological Aspect in Implementation of ISO 22000 Food Safety Management System in PT. Indohamafish. Undervision of Prof. Dr. Ir. I Ketut Suter, MS and ID.A.G. Lidartawan, S.TP. MP as Counsellor.

ABSTRACT

The aim of the research "Study of Microbiological Aspect in Implementation of ISO 22000 Food Safety Management System In PT. Indohamafish" was to compare microbiologis aspect before and after implementation of Food Safety Management System ISO 22000 in PT. Indohamafish of sardine in caning fish industries. This research was done with analysing data result of microbiological examination and compare food safety management system before and after implementation of ISO 22000:2005 so that can be determined by step into course of processing of food which is not safety so that the company can improve repair every step process or its procedure scientifically.

Determination of sampel was done by identifying biological hazard in course to processing of sardine start acceptance of receiving raw material till storage product, so there is 4 Critical Control Point (CCP), that we can storage there are where is of fresh fish, process of filling, cooling and final is product which have store at room temperature during 14 day. As for taken to be sampel to be done by random by taking 30% of each unit intake of sampel that is 20 unit of tube (fish store whereas) that can be obtained by 6 unit of tube, 15 desk unit of filling tha can bet obtained by 5 desk unit take from sampel that process of filling, and 10 unit of autoklaf meaning to be obtained by 3 unit of autoklaf.

Based on data result of examination of microbiologis at raw material and final product that the done before and after implementation of ISO 22000 showing tendency degredation of Total Plate Count (TPC) after implementation of ISO 22000 and all analysed sampel show freely of contamination from pathogen bacteria Eschericia coli and thermofil bacteria Clostridium perfringens. This matter have according to SNI 01-3548-1994 edition revise year 2007 for sardine in tomato saus and Director General of POM No. 03726/B/SK/VII/1989.

Keywords : microbiological aspect, ISO 22000, food safety

================================================================


NILA PRAHARA MAHARANI. 0311105043. Kajian Aspek Mikrobiologis dalam Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000 Di PT. Indohamafish. Dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. I Ketut Suter, MS sebagai Pembimbing I dan ID.A.G. Lidartawan, S.TP. MP sebagai Pembimbing II.

ABSTRAK

Penelitian yang berjudul ”Kajian Aspek Mikrobiologis Dalam Penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000 Di PT. Indohamafish” bertujuan untuk membandingkan aspek mikrobiologis sebelum dan sesudah penerapan Sistem Manajemen Keamanan Pangan ISO 22000 di perusahaan pengolahan ikan sarden dalam saus tomat, PT. Indohamafish. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis dari segi mikrobiologis dan membandingkan sistem manajemen keamanan pangan sebelum dan sesudah penerapan ISO 22000:2005 sehingga dapat ditentukan tahapan apa dalam proses pengolahan makanan yang tidak aman agar perusahaan dapat memperbaiki suatu langkah proses atau prosedurnya secara ilmiah.

Penentuan sampel dilakukan dengan cara mengidentifikasi bahaya biologi dalam proses pengolahan ikan sarden mulai penerimaan hingga penyimpanan produk sehingga didapatkan 4 Critical Control Point (CCP), yaitu penyimpanan sementara, proses pengisian ikan ke dalam kaleng (filling), pendinginan dan pada produk akhir yang telah diinkubasi pada suhu ruang selama 14 hari. Adapun sampel yang diambil dilakukan secara acak dengan mengambil 30% dari tiap unit pengambilan sampel yaitu 20 unit bak (tempat penyimpanan ikan sementara) sehingga diperoleh 6 unit bak, 15 unit meja filling sehingga diperoleh 5 unit meja pengambilan sampel di proses filling, dan 10 unit autoklaf yang berarti diperoleh 3 unit autoklaf

Berdasarkan data hasil pengujian mikrobiologis pada bahan baku dan produk yang dilakukan sebelum maupun sesudah penerapan ISO 22000 menunjukkan kecenderungan penurunan Total Plate Count (TPC) sesudah penerapan ISO 22000 dan semua sampel yang dianalisis menunjukkan bebas cemaran bakteri patogen Eschericia coli dan bakteri tahan panas Clostridium perfringens. Hal tersebut telah sesuai dengan SNI 01-3548-1994 edisi revisi tahun 2007 untuk ikan sarden dalam saus tomat dan Dirjen POM No. 03726/B/SK/VII/1989.

Kata kunci : aspek mikrobiologis, ISO 22000, keamanan pangan

Read more.....

Antibiotika

I PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan

Antibiotika adalah senyawa kimia yang dihasilkan mikroba, dalam konsentrasi rendah dan secara selektif mampu menghambat atau menghancurkan bakteri atau mikroorganisme lain melalui suatu mekanisme anti metabolik. Pengobatan antibiotik yang rasional adalah dengan memisahkan dan mengidentifikasi organisme patogen dan pusat infeksi serta menentukan kepekaan organisme terhadap antibiotik yang dipilih yang diketahui aktif terhadap organisme (Swastini, dkk., 2007).

Tidak semua antibiotik dapat menghambat atau membunuh bakteri, ada antibiotik yang berspektrum luas artinya antibiotik yang efektif bagi banyak spesies bakteri, baik kokus, basil, maupun spiral. Sebaliknya, suatu antibiotik yang hanya efektif untuk spesies tertentu disebut antibiotik yang berspektrum sempit (Dwidjoseputro, 2003). Mekanisme kerja dari suatu antibiotika yaitu : penghambatan sintesis dinding sel, penghambatan fungsi selaput sel, penghambatan sintesis protein (hambatan translasi dan transkripsi bahan genetik) dan penghambatan sintesis asam nukleat (Jawetz, et.al., 2005).

Resistensi antibiotika umumnya terjadi pada pemakaian jangka panjang (secara spontan) dan mutasi genetik bakteri. Model resistensi ada tiga, yaitu: inaktivasi oleh enzim, permeabilitas dinding sel, dan jalur metabolik (Swastini, dkk., 2007). Kerentanan suatu mikroorganisme terhadap antibiotik dapat ditentukan dengan teknik pengenceran tabung (tube dilution) atau teknik cawan piringan kertas (paper disk plate). Pada metode cawan piringan kertas dilakukan pengamatan terhadap adanya zone penghambat (daerah jernih) di sekeliling piringan yang menunjukan bahwa organisme itu dihambat pertumbuhannya oleh obat tersebut yang merembes dari piringan ke dalam agar (Pelczar dan Chan, 2006).

1.2. Tujuan

1. Untuk mengetahui pengaruh antibiotik terhadap pertumbuhan bakteri

2. Untuk mengetahui efektifitas antibiotik terhadap spesies bakteri

3. Untuk mengetahui cara pengujian potensi antibiotik yang umum dilakukan

II MATERI DAN METODE

Medium NA tegak dicairkan pada penangas air dan didinginkan sampai suhu 40o C. 1 mL suspensi biakan bakteri gram positif (Staphylococcus aureus) dan bakteri gram negatif (Escherichia coli) dimasukkan ke dalam satu cawan petri steril yang berlainan. Medium NA dituangkan ke dalam cawan petri yang sudah berisi biakan bakteri, lalu digoyangkan hingga homogen dan dibiarkan membeku. Cakram kertas saring direndam dalam larutan antibiotika (Tetracycline, Amoxicyline, Ciprofloxacyme, Ampicyline, Erythromycine dan Chloramphenicol) dengan berbagai konsentrasi (0 ppm; sebagai kontrol, 100 ppm, 1000 ppm dan 10000 ppm). Cawan petri dibagi menjadi 4 sektor dan diberi tanda sesuai konsentrasi antibiotika. Cakram yang sudah direndam dalam antibiotika diletakkan pada permukaan medium yang telah membeku, dimulai dari konsentrasi antibiotika terendah. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam kemudian diamati dan diukur zona bening di sekitar cakram kertas saring yang merupakan daerah hambatan yang terjadi.

Read more.....

system saraf

PENDAHULUAN

Nervi cranalis

- Dua belas pasang nervi cranialis (nervi cerebrates) merupakan saraf-saraf yang membersit dari encephalan.

- Sebagai diketahui nervi cranialis umurnya keluar dari otak melalui satu akar (radix).

- Sebelas pasang N. cranialis membersit dari bidang ventral otak sedangkan 1 pasang H trochleoris yang keluar meninggalkan otak di bidang dorsal.

- Nervi cranialis tidak membentuk ptexi seperti yang dikenal pada N. spinalis (plexus brachialis dan plexus lumbosacralis).

- Nervi cranialis pada umumnya tidak membentuk tiga sekawan bersama arteri dan vena. Kecuali nervi vagus dan asesorius daerah pengaruhnya terbatas hanya dikepala.

- Semua syaraf ini

Yang paling kecil saraf IV (throclearis)

Yang paling besar saraf V trigeminus (lembar ketiga)

Yang palinmg panjang nervus vagus (disebut netrvus kembara yang menghasulkan testosterone dll).

Plexus Brachialis

Merupakan anastomose yang intensif dari rami ventroles 3 sampai 4 nervil cervalis terakhir dari 1 sampai 2 nervil thoracales pertama. Dari plexus brachialis rembersit 11 pasang saraf untuk daerah bahu dan kaki mukasebelah distal.

  1. Saraf untuk daerah bahu :

1. N. Suprascapularis

2. N. subscapularis

Ke 2 saraf ini berunsur somatomotoris dan manginevorsi, otot-otot bahu sebelah lateral (M. supraspinatus dan M. infraspanatus) dan sebelah medial (subscapularis).


  1. Syaraf untuk dinding bahu :

1. N. thoracalis anterus

2. N. thoracodorsalis

3. N. thocicus lungus

4. N. thoracica lateralis (externus) berasal dari cervicalis VIII dan
thoracalis I II.

Syaraf-syaraf ini menginervasi otot-otot umumnya yaitu : Otot-otot yang berorigo ditubuh dan berisertio dikaki (muka) seperti otot-otot penggantung tubuh dan m. latissimus dorsi serta m. brachiophalicus.

  1. Saraf untuk kaki muka

Lima saraf berikutnya terbesar dikaki muka sebelah distal dari daerah bahu

1. N. muscullacutareus

Motoris : Otot-otot flexor persendian siku.

Sensible : Kulit daerah antibrachium corpus dan retacurpus sebelah medial.

2. N. axilaris

Motoris : Otot-otot flexor persendian bahu.

Sensorik : Kulit antibrachium sebelah dorsal lateral.

3. N. radialis

Motoris : Otot-otot extensor persendian siku, corpus, jari.

Sensoris : Kulit antibrachium sebelah dorsal lateral (kuda) dan kulit daerah jari sebelah dorsal (pemamah biak).

4. N. ulnaris

Motorik : Otot-otot flexor persendian corpus + jari.

Sensorik : Kulit antibrachium sebelah volar, kulit corpus dan metacarpus sebelah dorsal lateral.

5. N. medianus

Motorik : Otot-otot flexor persendian corpus + jari.

Sensorik : Kulit antibrachium sebelah medal, kulit daerah jari (kuda). Kulit daerah jari sebelah volar (pemamah biak).

Plexus Lumbosacralis

Plexus ini dibentuk oleh rami ventrales dari N. V,VI dan N. Sacrales 1 dan 2. Dari plexus lumbosacrales membersit 5 saraf : n. femoralis abturatorium, gluteus cranalis, gluteus coukalis dan ischiadicu:

  1. H. femoralis

Motorik : Otot-otot ekstensor persendian lutut.

Sensorik : Kulit cruris bagian dorsal median (N. Saphenus)

  1. N. Obturatorius

Motoris : Otot-otot adductor kaki belakang.

  1. N. Gluteus cranalis

Motoris : Otot-otot ekstensor persendian paha.

  1. N. Gluteus caudalis

Motoris : Otot-otot ekstensor persendian paha.

Sensorik : Kulit daerah panggul + paha sebelah lateral caudal.

  1. N. Ischiadicus

a. H. Fibialis

Motoris : Otot-otot ekstensor persendian paha (radius muscularis proximale). Otot-otot flexor persendian lutut (radius muscukiri: distal).

Otot-otot ekstensor persendian tarsus.

Otot-otot flexor persendian jari.

Sensibel : Kulit extensor medial (n. cutaneus medialis) Kulit daerah jari sebelah plantar.

b. N. Parpneus

MotoriK : otot-otot flexor persediaan tarsus. Otot-otot ekstonsor persediaan jari.

Sensibel : Kuilit deaerah tarsus + metatarsus sebelah lateral Kulit daerah jari sebelah dorsa.


Read more.....

struktur sekretori tanaman celagi (Asam Jawa)

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi tuntutan akan kesekutan yang lebih baik semakin meningkat. Dengan demikian banyak ahli berusaha mencari penemuan yang spektakuler.

Penggunaan obat kimiawi yang ternyata memiliki banyak efek samping, maka mulai dikembangkan obat-obatan dari bahan alami. Namun saat ini masih banyak tanaman berkhasiat obat yang tumbuh liar dan belum terolah, populasinya tersebar di berbagai tempat, mulai dari tegalam, hutan, kebun, persawahan, pertanaman hingga pertamanan kota.

Salah satu cara untuk mengethaui suatu tanaman memiliki khasiat obat bisa kita ketahui melalui deskripsi tanaman, kemudian melakukan penelitian.

Untuk alasan tersebut saya membuat yang berjudul “Struktur Sekretori Tanaman Asam Jawa”

II. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah struktur sekretori tanaman asam jawa?
  2. Apa manfaat tanaman asam jawa?

III. Tujuan

Adapun tujuan yang diharapkan dari pembuatan makalah ini yaitu bagi penulis bisa menambah wawasan tentang tanaman obat-obatan kegunaannya, bagi pembaca bisa mengetahui struktur sekretori dari tanaman asam jawa.

IV. Metode Penulisan

Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka dengan merangkum bahan dari buku-buku yang terkait dengan materi yang dibahas.


PEMBAHASAN

A. Klasifikasi Tanaman Celagi (Asam Jawa)

B. Deskripsi Tanaman Celagi (Asam Jawa)

C. Struktur Sekretori Tanaman Celagi (Asam Jawa)

Pada tumbuhan, peristiwa sekresi uraum ditemukan. Yang dimaksud dengan sekresi adalah peristiwa pemisahan sejurnlah zat dari protoplas atau isolasinya dalam sebagian protoplas. Zat yang disekresikan dapat berupa ion berlebih yang dipisahkan dalam bentuk garam, kelebihan hasil asimilasi yang dikeluarkan sebagai gula, atau pun senyawa dalam dinding sel. Zat yang disimpan dalam dinding sel atau di permukaannya antara lain zat seperti lignin, suberin, kutin, dan malam. Selain itu juga termasuk senyawa yang mcrupakan hasil akhir atau bukan mempakan hasil akhir metabolisme, narnun tak dapat digunakan atau hanya separuh yang dapat digunakan secara fisiologis (alkaloid, tanin, terpen, harsa, bermacam kristal). Tercakup pula zat yang memiliki fungsi fisiologis sesudah disekresikan (enzim, hormon).

Pemisahan dan pembuangan zat yang tidak turut dalam metabolisme sel kadang-kadang disebut ekskresi. Namun, dalam tumbuhan tak dapat dibuat pemisahan tajam antara sekresi dan eksicresi, sebab sel yang sama menghimpun berbagai zat, sebagian berupa produk sisa, yang lain berupa bahan yang dipakai kembali. Selain itn, peran khusu sebagai besar zat yang disekresikan, tidak diketahui. Oleh karena inj, dalatn tujisan nai istilah sekresi dipakai dalam arti luas yang mencakup sintesis, pemisahan dan pembebasan bahan yang terspesialisasi secara fungsional atau dimaksudkan untuk disimpan atau untuk diekskresi kan. Jadi, sekresi meliputi baik pelepasan bahan dari sel (baik ke permukaan sel tersebut atau ke ruang dalam aombuhan) maupun akumulasi sekret ke dalam satu bagian sel.

Peristiwa sekresi dalam tumbuhan biasanya ditunjukkan pada ramhut kelenjar, nektarium, saluran harsa, dan latisifer (sel getah, sel lateks). Namun, perlu disadari bahwa kegiatan sekresi terjadi dalam semua sel hidup dan menjadi bagian metabolisme normalnya. Peristiwa sekresi menunjukkan berbagai tahap penimbunar; zat dalam organel dan vakuola, yakni dalam mengerahkan enzim yang teriibat dalam sintesis dan penguraian bagian sei; dalam pertukaran bahan antarorganel; dan daiam peristiwa pengangkutan antarsel. Meskipun pada tulisan berikut akan dibahas struktur sekresi; yakni yang terspesialisasi bagi suatu fungsi, hendaknya tidak diiupakan baliwa sebenarnya proses sekresi terjadi di mana-mana.

Sekret yang dihasilkan oleh suatu kelenjar amat beragam. Beberapa kelenjar (hidatoda, kelenjar lendir, nektarium, kelenjar garam) mensekresikan zat hidrofilik, sementara kelenjar lain (kelenjar minyak, sel epitelium pada saluran harsa) melepaskan zat lipofilik. Struktur-ultra kedua macam kelenjar seperti itu menunjukkan bahwa sekresi zat hidrofilik terjadi seiring dengan kehadiran sejumlah besar mitokondria, retikulum endoplasma, atau diktiosom. Pada kelenjar minyak tampaknya sekresi berkaitan dengan penguraian protoplas yang semula padat.

Diktiosom.yang kelihatan menonjol da lam sekirsi poJi:;aksrida, bahan pekfin, dan endir, lampaknya tidak terlibat dalarn sekresi; terpenoid.

Cara scl membuat sekrct belum banyak dikctanui. Jika sekref dibawa ke luar oleh diktiosom, rnaka bagian diktiosom tersebut sampsi ke arah luar protoplas karena adanya penyatuan vesikula dengan plasmalcma. Setelah itu, dianggap bahwa bahan keluar melalui dinding. Jika yang disekresikan berupa molekul kecil, dianggap bahwa molekui itu langsung bergerak melalui plasraaleraa dan dinding. Pelaluan ini bersifat pasif jika dikendalikan oleh perbedaan konsenfrasi dan bersifat aktif jika mcmerlukan I energi hasil metabolisrae. Diferensiasi sel menjadi sel transfer dengan pembentukan tonjolan dinding sebelah dalam dapat terjadi pada sel yang mensekresikan zat hidrofilik, misalnya dalam kelenjar yang mensekresikan garam atau karbohidrat. Pada rambut kelcnjar, minyak atsiri (yang mudah menguap) sering berkumpul di antara dinding sel dan kutikula (gambar 13.1). Keraudian, kutikula rusak dan membebaskan minyak di bawahnya.


Pada tanaman celagi memiliki beberapa kelenjar sekresi yaitu

- Naektarium

Berbeda dengan kelenjar garam, nektarium mensekresi cairan gula. Pada kelenjar garam, sumber bahan yang disekresikan adalah arus transpirasi, sedangkan pada nektarium sumbernya adalah xilem dan floem.

Nektariura terdapat pada bunga dan disebut nektarium floral, namun juga terdapat di luar bunga dan dinamakan nektarium ekstra floral. Nektariura floral membentuk permukaan yang bersifat kelenjar dan ditemukan pada daun kelopak, daun mahkota, benang sari, bakal buah, atau pun pada dasar bunga (reseptakulum). Nektariura ekstrafloral terdapat pada batang, daun, daun penumpu, dan tangkai bunga. Jaringan sekresi mungkin terbatas pada epidermis, namun bisa juga mencakup beberapa lapisan di bawahnya (gambar 13.3). Di sebelah luar, jaringan sekresi ditutup oleh kutikula. Di dekat jaringan sekresi terdapat jaringan pembuluh. Ada hubungan yang erat antara jumlah floem dalam jaringan pembuluh yang memasok nektarium dengan gula dalam nektar (zat yang disekresikan oleh nektarium). Jika jumlah floem lebih banyak, maka kadar gula dalam nektar bisa mencapai 50% dan sebaliknya, jika xilem yang lebih banyak, maka kadar gula hanya sebanyak 8%. Bahan dari floem -tidak tangsung disekresikan, melainkan ditransformasi dahulu dengan bantuan enzim. Nektarium yang dipasok oleh jaringan pembuluh yang mengandung banyak xilem dianggap bertahapan secara fisiologis dengan hidatoda.

Sel sekresi pada nektarium menunjukkan sitoplasma padat, dan vakuola kecil, dan sering memuat tanin. Adanya mitokondria dalam jumlah besar dengan krista yang berkembanc baik menunjukkan bahwa sel berespirasi secara intensif. Jumlah. retikulum endoplasma banyak dan jumlah maksimum tercapai ketika nektar disekresikan

- Intisiper

Latisifer adalah sel atau sejuralah sel dalam deretan memanjang yang saling berhubungan, berisi lateks, yakni cairan yang mmit susunannya. Sebagaimana struktur kelenjar sekresi lain, latisifer pun mempakan ternpat pengumpulan zat seperti terpen dan harsa dan sebab latisifer itu dianggap kelenjar ekskresi. Namun, dapat jiitemukan pula enzim, sehingga latisifer termasuk kelenjar sekresi.

Asal pembentukan latisifer bisa sederhana, bisa juga raajemuk. Latisifer sederhana merupakan sel tunggal, sedangkan latisifer majemuk berasal dari sejumlah sel dalam deretan memanjang. Pada taraf perkembangan berikutnya sel dalam deretan memanjang tersebut akan saling berhubungan karena larutnya sebagian atau seluruh dinding ujung sehingga terjadi satu saluran yang panjang (garabar 13.7 C). Adanya sisa-sisa dinding ujung masih menunjukkan batas sel asal. Penampakan seperti itulah alasan pemakaian nama latisifer beruas bagi latisifer majemuk yang terdiri dari banyak sel ini. Sebaliknya, latisifer sederhana adalah latisifer tak beruas dan terdiri dari satu sel saja. Kedua macam latisifer ini dapat bercabang atau tidak bercabang, dan bisa terjadi anastomosis atau pun tidak. Anastomosis terjadi jika dinding lateral dari dua latisifer yang berdampingan berada dalam posisi berimpitan; larutnya sebagian dinding yang berimpitan itu mengakibatkan terjadinya pori yang menghubungkan kedua latisifer.

Latisifer dapat ditemukan di berbagai tempat dalam tumbuhan. Namun, dapat pula terbatas pada floem. Latisifer beruas ditemukan juga dalam jaringan baru akibat diferensiasi sel pada jaringan baru itu menjadi latisifer, di tempat pertemuannya dengan latisifer lama.

- Kelenjar Epital

Merupakan kelenjar yang sel-selnya terdiri dari sel-sel yang letaknya berdampingan antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga merupakan suatu lapisan sel. Sering didapat pada sel-sel epidecmis. Dinding sel epitel ini biasanya berkusikula.

- Kelenjar Rambut

Kelenjar ini mempunyai struktur bentuk serta ukuran bermacam-macam merupakan derivat epidermis dan lapisan sub epidermal. Kelenjar-kelenjar rambut yang ada yang terdiri dari satu sel ada pula yang terdiri dari banyak sel. Kelenjar-kelenjar rambut yang terdapat pada epidermis seperti diatas disebut colleter dan zat yang dihasilkan disebut dengan blastokolla.

Read more.....

daya bakteri

1.1 Latar Belakang

Banyak cara telah dilakukan oleh manusia untuk mengendalikan bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit, salah satunya dengan menggunakan ion dari logam (Pelzar dan Chan, 1988). Cara ini dilakukan mengingat pengendalian bakteri patogen dengan menggunakan radiasi sinar UV, ozone dan zat kimia klor kurang efektif. Penggunaan radiasi sinar UV dan ozone kurang efektif karena setelah penyinaran masih ada bakteri yang belum mati dan bakteri itu masih dapat tumbuh kembali dengan baik, sedangkan penggunaan klor cukup efektif dalam membunuh bakteri patogen, namun zat ini dapat bersifat karsinogenik yang dapat membahayakan kesehatan (Atkinson, 2004).

Ion logam yang sering dimanfaatkan untuk mengendalikan bakteri patogen, terutama bakteri patogen dalam air adalah ion dari logam Ag (perak), Cu (tembaga), dan Zn (seng). Logam-logam ini tidak termasuk ke dalam jenis logam yang bersifat karsinogenik, dan tidak akan membahayakan kesehatan bila digunakan dalam air, sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh WHO ( DHHS. 2004 dan IARC. 2004 dalam Atkinson, 2004).

Standar yang telah ditetapkan WHO tersebut, diantaranya dijabarkan oleh EPA (Enveronmental Protection Agency) yang menyatakan bahwa dalam air minum tidak diperbolehkan terdapat Cu melebihi 1,3 mg per liter air ,0,1 mg Ag per liter air dan 5 mg Zn per liter air (ATSDR. 1990; ATSDR. 2002 dan ATSDR. 2003).

Menurut Pelzar dan Chan (1988) dan Atkinson (2004), logam-logam berat dapat membunuh bakteri patogen dalam konsentrasi yang sangat kecil, hanya beberapa ppm yang disebut aksi oligodinamik. Ion Cu, Ag dan Zn dalam konsentrasi 20 ppb, sudah dapat membunuh bakteri patogen dalam air.

Jenis bakteri patogen yang sering di temukan dalam badan air adalah E. coli, Salmonella, Vibrio dan Shigella (Dwidjoseputro, 2004). Bakteri-bakteri ini dapat menyebabkan penyakit pada manusia, E. coli menyebabkan gastroenteritis dan penyakit seperti disentri pada manusia, Salmonella menyebabkan tifoid, Vibrio dapat menyebabkan kolera, dan Shigella dapat menyebabkan disentri ( Muslimin, 1996).

Menurut hasil penelitian Lin et al. (1998) dalam Miyamoto (2000) ion Ag dan Cu dapat membunuh bakteri patogen seperti Mycobacterium avium dan Legionella pneumophila yang ditemukan pada sistem air panas rumah sakit. L. pneumophila akan mati dalam waktu 6 jam setelah diberi perlakuan 50 /u g/L ion Ag dan 2,5 jam setelah diberi perlakuan 0,1 mg/L ion Cu sedangkan M. avium yang diberi perlakuan 100 (J.g/L ion Ag dari jumlah 105 sel/mL menjadi 10 sel/mL dalam waktu 24 jam setelah perlakuan. Lebih lanjut lagi, NATA (2004) dalam Atkinson (2004), melaporkan bahwa sampel air yang diambil dari Danau Tomato yang tidak diberi perlakuan AgO, CuO dan ZnO total bakteri heterotropik yang terdapat didalamnya, jika diinkubasi pada suhu 21°C adalah 5800 sel/mL, namun jika diberi perlakuan AgO, CuO dan ZnO dengan konsentrasi 50 ppb akan terjadi tingkat kematian sebanyak 91,72 %, konsentrasi 100 ppb akan terjadi tingkat kematian bakteri sebanyak 91,90 % dan konsentrasi 150 ppb akan terjadi tingkat kematian bakteri sebanyak 93,10 %, sedangkan sampel yang diinkubasi pada suhu 37° C yang tidak diberi perlakuan, total koloni bakteri yang terdapat didalamnya adalah 3000 sel/mL, jika diberi perlakuan AgO, CuO dan ZnO dengan konsentrasi 50 ppb akan terjadi tingkat kematian sebanyak 90,33 %, konsentrasi 100 ppb akan terjadi tingkat kematian bakteri sebanyak 90,33 % dan konsentrasi -150 ppb akan terjadi tingkat kematian bakteri sebanyak 94,67 %.

Berdasarkan hal tersebut di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang daya bakterisidal dari AgO, Cu dan Zn terhadap beberapa bakteri patogen {E. coli, S. typhimurium, V. cholerae dan Shigella sp.)-

1.2. Rumusan Masalah

Adapun masalah yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

Pada konsentrasi minimum dan interval waktu berapa jam AgO, Cu dan
Zn secara efektif dapat membunuh bakteri uji (E. coli, S. typhimurium, V.cholerae dan Shigella sp.) ?

Apakah bakteri uji berpotensi untuk dapat tumbuh kembali setelah diberi perlakuan ?

1.3. Tujuan

Tujuan dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui konsentrasi minimum dan waktu yang paling efektif dari AgO, Cu dan Zn dalam membunuh bakteri uji (E. coli, S. typhimurium, V. cholerae dan Shigella sp.).

2. Untuk mengetahui ada tidaknya potensi daripada bakteri uji untuk dapat tumbuh kembali setelah diberi perlakuan.

1.3. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi mengenai AgO dan Cu dan Zn yang belum banyak dikenal di Indonesia, sehingga informasi ini dapat bermanfaat untuk pengelolaan air minum.

Read more.....
Custom Search
 
task