Custom Search
anatomy - histology - veterinary - cells - biotechnology

struktur sekretori tanaman celagi (Asam Jawa)

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi tuntutan akan kesekutan yang lebih baik semakin meningkat. Dengan demikian banyak ahli berusaha mencari penemuan yang spektakuler.

Penggunaan obat kimiawi yang ternyata memiliki banyak efek samping, maka mulai dikembangkan obat-obatan dari bahan alami. Namun saat ini masih banyak tanaman berkhasiat obat yang tumbuh liar dan belum terolah, populasinya tersebar di berbagai tempat, mulai dari tegalam, hutan, kebun, persawahan, pertanaman hingga pertamanan kota.

Salah satu cara untuk mengethaui suatu tanaman memiliki khasiat obat bisa kita ketahui melalui deskripsi tanaman, kemudian melakukan penelitian.

Untuk alasan tersebut saya membuat yang berjudul “Struktur Sekretori Tanaman Asam Jawa”

II. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah struktur sekretori tanaman asam jawa?
  2. Apa manfaat tanaman asam jawa?

III. Tujuan

Adapun tujuan yang diharapkan dari pembuatan makalah ini yaitu bagi penulis bisa menambah wawasan tentang tanaman obat-obatan kegunaannya, bagi pembaca bisa mengetahui struktur sekretori dari tanaman asam jawa.

IV. Metode Penulisan

Metode yang digunakan adalah tinjauan pustaka dengan merangkum bahan dari buku-buku yang terkait dengan materi yang dibahas.


PEMBAHASAN

A. Klasifikasi Tanaman Celagi (Asam Jawa)

B. Deskripsi Tanaman Celagi (Asam Jawa)

C. Struktur Sekretori Tanaman Celagi (Asam Jawa)

Pada tumbuhan, peristiwa sekresi uraum ditemukan. Yang dimaksud dengan sekresi adalah peristiwa pemisahan sejurnlah zat dari protoplas atau isolasinya dalam sebagian protoplas. Zat yang disekresikan dapat berupa ion berlebih yang dipisahkan dalam bentuk garam, kelebihan hasil asimilasi yang dikeluarkan sebagai gula, atau pun senyawa dalam dinding sel. Zat yang disimpan dalam dinding sel atau di permukaannya antara lain zat seperti lignin, suberin, kutin, dan malam. Selain itu juga termasuk senyawa yang mcrupakan hasil akhir atau bukan mempakan hasil akhir metabolisme, narnun tak dapat digunakan atau hanya separuh yang dapat digunakan secara fisiologis (alkaloid, tanin, terpen, harsa, bermacam kristal). Tercakup pula zat yang memiliki fungsi fisiologis sesudah disekresikan (enzim, hormon).

Pemisahan dan pembuangan zat yang tidak turut dalam metabolisme sel kadang-kadang disebut ekskresi. Namun, dalam tumbuhan tak dapat dibuat pemisahan tajam antara sekresi dan eksicresi, sebab sel yang sama menghimpun berbagai zat, sebagian berupa produk sisa, yang lain berupa bahan yang dipakai kembali. Selain itn, peran khusu sebagai besar zat yang disekresikan, tidak diketahui. Oleh karena inj, dalatn tujisan nai istilah sekresi dipakai dalam arti luas yang mencakup sintesis, pemisahan dan pembebasan bahan yang terspesialisasi secara fungsional atau dimaksudkan untuk disimpan atau untuk diekskresi kan. Jadi, sekresi meliputi baik pelepasan bahan dari sel (baik ke permukaan sel tersebut atau ke ruang dalam aombuhan) maupun akumulasi sekret ke dalam satu bagian sel.

Peristiwa sekresi dalam tumbuhan biasanya ditunjukkan pada ramhut kelenjar, nektarium, saluran harsa, dan latisifer (sel getah, sel lateks). Namun, perlu disadari bahwa kegiatan sekresi terjadi dalam semua sel hidup dan menjadi bagian metabolisme normalnya. Peristiwa sekresi menunjukkan berbagai tahap penimbunar; zat dalam organel dan vakuola, yakni dalam mengerahkan enzim yang teriibat dalam sintesis dan penguraian bagian sei; dalam pertukaran bahan antarorganel; dan daiam peristiwa pengangkutan antarsel. Meskipun pada tulisan berikut akan dibahas struktur sekresi; yakni yang terspesialisasi bagi suatu fungsi, hendaknya tidak diiupakan baliwa sebenarnya proses sekresi terjadi di mana-mana.

Sekret yang dihasilkan oleh suatu kelenjar amat beragam. Beberapa kelenjar (hidatoda, kelenjar lendir, nektarium, kelenjar garam) mensekresikan zat hidrofilik, sementara kelenjar lain (kelenjar minyak, sel epitelium pada saluran harsa) melepaskan zat lipofilik. Struktur-ultra kedua macam kelenjar seperti itu menunjukkan bahwa sekresi zat hidrofilik terjadi seiring dengan kehadiran sejumlah besar mitokondria, retikulum endoplasma, atau diktiosom. Pada kelenjar minyak tampaknya sekresi berkaitan dengan penguraian protoplas yang semula padat.

Diktiosom.yang kelihatan menonjol da lam sekirsi poJi:;aksrida, bahan pekfin, dan endir, lampaknya tidak terlibat dalarn sekresi; terpenoid.

Cara scl membuat sekrct belum banyak dikctanui. Jika sekref dibawa ke luar oleh diktiosom, rnaka bagian diktiosom tersebut sampsi ke arah luar protoplas karena adanya penyatuan vesikula dengan plasmalcma. Setelah itu, dianggap bahwa bahan keluar melalui dinding. Jika yang disekresikan berupa molekul kecil, dianggap bahwa molekui itu langsung bergerak melalui plasraaleraa dan dinding. Pelaluan ini bersifat pasif jika dikendalikan oleh perbedaan konsenfrasi dan bersifat aktif jika mcmerlukan I energi hasil metabolisrae. Diferensiasi sel menjadi sel transfer dengan pembentukan tonjolan dinding sebelah dalam dapat terjadi pada sel yang mensekresikan zat hidrofilik, misalnya dalam kelenjar yang mensekresikan garam atau karbohidrat. Pada rambut kelcnjar, minyak atsiri (yang mudah menguap) sering berkumpul di antara dinding sel dan kutikula (gambar 13.1). Keraudian, kutikula rusak dan membebaskan minyak di bawahnya.


Pada tanaman celagi memiliki beberapa kelenjar sekresi yaitu

- Naektarium

Berbeda dengan kelenjar garam, nektarium mensekresi cairan gula. Pada kelenjar garam, sumber bahan yang disekresikan adalah arus transpirasi, sedangkan pada nektarium sumbernya adalah xilem dan floem.

Nektariura terdapat pada bunga dan disebut nektarium floral, namun juga terdapat di luar bunga dan dinamakan nektarium ekstra floral. Nektariura floral membentuk permukaan yang bersifat kelenjar dan ditemukan pada daun kelopak, daun mahkota, benang sari, bakal buah, atau pun pada dasar bunga (reseptakulum). Nektariura ekstrafloral terdapat pada batang, daun, daun penumpu, dan tangkai bunga. Jaringan sekresi mungkin terbatas pada epidermis, namun bisa juga mencakup beberapa lapisan di bawahnya (gambar 13.3). Di sebelah luar, jaringan sekresi ditutup oleh kutikula. Di dekat jaringan sekresi terdapat jaringan pembuluh. Ada hubungan yang erat antara jumlah floem dalam jaringan pembuluh yang memasok nektarium dengan gula dalam nektar (zat yang disekresikan oleh nektarium). Jika jumlah floem lebih banyak, maka kadar gula dalam nektar bisa mencapai 50% dan sebaliknya, jika xilem yang lebih banyak, maka kadar gula hanya sebanyak 8%. Bahan dari floem -tidak tangsung disekresikan, melainkan ditransformasi dahulu dengan bantuan enzim. Nektarium yang dipasok oleh jaringan pembuluh yang mengandung banyak xilem dianggap bertahapan secara fisiologis dengan hidatoda.

Sel sekresi pada nektarium menunjukkan sitoplasma padat, dan vakuola kecil, dan sering memuat tanin. Adanya mitokondria dalam jumlah besar dengan krista yang berkembanc baik menunjukkan bahwa sel berespirasi secara intensif. Jumlah. retikulum endoplasma banyak dan jumlah maksimum tercapai ketika nektar disekresikan

- Intisiper

Latisifer adalah sel atau sejuralah sel dalam deretan memanjang yang saling berhubungan, berisi lateks, yakni cairan yang mmit susunannya. Sebagaimana struktur kelenjar sekresi lain, latisifer pun mempakan ternpat pengumpulan zat seperti terpen dan harsa dan sebab latisifer itu dianggap kelenjar ekskresi. Namun, dapat jiitemukan pula enzim, sehingga latisifer termasuk kelenjar sekresi.

Asal pembentukan latisifer bisa sederhana, bisa juga raajemuk. Latisifer sederhana merupakan sel tunggal, sedangkan latisifer majemuk berasal dari sejumlah sel dalam deretan memanjang. Pada taraf perkembangan berikutnya sel dalam deretan memanjang tersebut akan saling berhubungan karena larutnya sebagian atau seluruh dinding ujung sehingga terjadi satu saluran yang panjang (garabar 13.7 C). Adanya sisa-sisa dinding ujung masih menunjukkan batas sel asal. Penampakan seperti itulah alasan pemakaian nama latisifer beruas bagi latisifer majemuk yang terdiri dari banyak sel ini. Sebaliknya, latisifer sederhana adalah latisifer tak beruas dan terdiri dari satu sel saja. Kedua macam latisifer ini dapat bercabang atau tidak bercabang, dan bisa terjadi anastomosis atau pun tidak. Anastomosis terjadi jika dinding lateral dari dua latisifer yang berdampingan berada dalam posisi berimpitan; larutnya sebagian dinding yang berimpitan itu mengakibatkan terjadinya pori yang menghubungkan kedua latisifer.

Latisifer dapat ditemukan di berbagai tempat dalam tumbuhan. Namun, dapat pula terbatas pada floem. Latisifer beruas ditemukan juga dalam jaringan baru akibat diferensiasi sel pada jaringan baru itu menjadi latisifer, di tempat pertemuannya dengan latisifer lama.

- Kelenjar Epital

Merupakan kelenjar yang sel-selnya terdiri dari sel-sel yang letaknya berdampingan antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga merupakan suatu lapisan sel. Sering didapat pada sel-sel epidecmis. Dinding sel epitel ini biasanya berkusikula.

- Kelenjar Rambut

Kelenjar ini mempunyai struktur bentuk serta ukuran bermacam-macam merupakan derivat epidermis dan lapisan sub epidermal. Kelenjar-kelenjar rambut yang ada yang terdiri dari satu sel ada pula yang terdiri dari banyak sel. Kelenjar-kelenjar rambut yang terdapat pada epidermis seperti diatas disebut colleter dan zat yang dihasilkan disebut dengan blastokolla.

Custom Search
 
task