Perkecambahan Menurut Elisa (2006), perkecambahan adalah proses pengaktifan kembali aktivitas pertumbuhan embryonic axis di dalam biji yang terhenti untuk kemudian membentuk bibit. Selama proses pertumbuhan dan pemasakan biji, embryonic axis juga tumbuh. Secara visual dan morfologis, suatu biji yang berkecambah umumnya ditandai dengan terlihatnya radikel atau plumula yang menonjol keluar dari biji. Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Pada tanaman, tahapan dalam perkecambahannya terdiri dari: Proses penyerapan air atau imbibisi berguna untuk melunakkan kulit biji dan menyebabkan pengembangan embrio dan endosperma. Hal ini menyebabkan pecah atau robeknya kulit biji. Selain itu, air memberikan fasilitas untuk masuknya oksigen ke dalam biji. Dinding sel yang kering hampir tidak permeabel untuk gas, tetapi apabila dinding sel di-imbibisi oleh air, maka gas akan masuk ke dalam sel secara difusi. Apabila dinding sel kulit biji dan embrio menyerap air, maka suplai oksigen meningkat kepada sel-sel hidup sehingga memungkinkan lebih aktifnya pernapasan. Sebaliknya CO2 yang dihasilkan oleh pernapasan tersebut lebih mudah mendifusi keluar. Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan penyerapan air oleh biji yaitu: permeabilitas kulit biji, konsentrasi air, suhu, luas permukaan biji yang kontak dengan air, daya intermolekuler. Biji yang ditempatkan pada suatu lingkungan yang basah maka molekul air yang ada di luar akan mulai berdifusi ke dalam biji. Ketika molekul itu sudah berhasil melalui selaput pembungkus biji sebagian diantaranya ada yang diserap sehingga menyebabkan terjadinya peristiwa imbibisi (peristiwa penyerapan air ke dalam ruangan antar dinding sel, sehingga dinding selnya akan mengembang). Sedangkan molekul air yang lainnya akan berpindah melalui membran sitoplasma yang permeabel dengan cara osmosis menuju vakuola sel-sel hidup yang ada dalam biji sehingga dari sinilah awal biji dapat berkecambah (Ferry and Ward, 1959). Perkecambahan merupakan bagian yang sangat penting dari siklus hidup tumbuhan berbiji. Hasil perkecambahan adalah pertumbuhan calon akar dan calon tunas. Secara visual dan morfologis suatu biji yang berkecambah umumnya ditandai dengan akar dan daun yang menonjol keluar dari biji (Kamil, 1992). Rangkaian proses-proses fisiologis yang berlangsung pada perkecambahan adalah (1) penyerapan air secara imbibisi dan osmose, (2) pencernaan atau pemecahan senyawa menjadi bermolekul lebih kecil, sederhana, larut dalam air dan dapat diangkut, (3) pengangkutan hasil pencernaan, (4) asimilasi atau penyusunan kembali senyawa hasil pencernaan, (5) pernafasan atau respirasi yang merupakan perombakan cadangan makanan, dan (6) pertumbuhan pada titik-titik tumbuh (Kamil, 1992). Proses-proses perkecambahan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan faktor-faktor lingkungan seperti air, O2, cahaya dan suhu. Air berperan dalam melunakkan kulit biji, memfasilitasi masuknya O2, dan alat transportasi makanan. Cahaya merupakan sumber energi pada perkecambahan yang dapat mempengaruhi perangsangan dan percepatan proses pertumbuhan kecambah. Suhu berperan pada tingkat kecukupan oksigen dalam perkecambahan. Pada suhu tinggi, O2 tidak mencukupi untuk perkecambahan ketika suhu diturunkan, O2 menjadi tercukupi. O2 dibutuhkan pada proses oksidasi untuk membentuk energi perkecambahan. Udara di alam yang mengandung 20% O2 sudah membantu perkecambahan karena proses perkecambahan hanya butuh 0,3% O2 (Kamil, 1992). Aktivasi enzim terjadi setelah benih berimbibisi dengan cukup. Enzim-enzim yang teraktivasi pada proses perkecambahan ini adalah enzim hidrolitik seperti α-amilase yang merombak amylase menjadi glukosa, ribonuklease yang merombak ribonukleotida, endo-β-glukanase yang merombak senyawa glukan, fosfatase yang merombak senyawa yang mengandung P, lipase yang merombak senyawa lipid, peptidase yang merombak senyawa protein. Proses ini terjadi setelah semua proses imbibisi, aktivasi enzim, dan katabolisme cadangan makanan berjalan. Proses ini ditandai oleh meningkatnya bobot kering embryonic axis,dan menurunnya bobot kering endosperma. Munculnya radikel adalah tanda bahwa proses perkecambahan telah sempurna. Proses ini akan diikuti oleh pemanjangan dan pembelahan sel-sel. Proses pemanjangan sel ada dua fase yakni; fase 1 (fase lambat) dimana pemanjangan sel tidak diikuti dengan penambahan bobot kering dan fase 2 (fase cepat), yang diikuti oleh penambahan bobot segar dan bobot kering. Kecambah mulai mantap setelah ia dapat menyerap air dan berfotosintesis (autotrof). Semula, ada masa transisi antara masih disuplai oleh cadangan makanan sampai mampu autotrof. Saat autotrof dicapai proses perkecambahan telah sempurna. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkecambahan Tanaman Faktor internal yang mempengaruhi proses perkecambahan adalah : Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai, tidak mempunyai viabilitas tinggi. Diduga pada tingkatan tersebut benih belum memiliki cadangan makanan yang cukup dan juga pembentukan embrio yang belum sempurna. Di dalam jaringan penyimpanannya, benih memiliki karbohidrat, protein, lemak dan mineral. Bahan-bahan ini diperlukan sebagai bahan baku dan energi bagi embrio pada saat perkecambahan. Diduga bahwa benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan lebih banyak dibandingkan dengan benih yang kecil, mungkin pula embrionya lebih besar. Suatu benih dikatakan dorman apabila benih itu sebenarnya viabel (hidup) tetapi tidak mau berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan lingkungan yang memenuhi syarat bagi perkecambahannya. Tipe dormansi pada adalah after ripening. Tidak semua hormon tumbuhan (fitohormon) bersifat mendukung proses perkecambahan, adapula beberapa fitohormon yang menghambat proses perkecambahan. Fitohormon yang berfungsi merangsang pertumbuhan perkecambahan antara lain : Auksin, yang berperan untuk : Mematahkan dormansi biji dan akan merangsang proses perkecambahan biji. Perendaman biji dengan auksin dapat membantu menaikkan kuantitas hasil panen serta dapat memacu proses terbentuknya akar. Giberelin, yang berperan dalam mobilisasi bahan makanan selama fase perkecambahan. Pertumbuhan embrio selama perkecambahan bergantung pada persiapan bahan makanan yang berada di dalam endosperma. Untuk keperluan kelangsungan hidup embrio maka terjadilah penguraian secara enzimatik yaitu terjadi perubahan pati menjadi gula yang selanjutnya ditranslokasikan ke embrio sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya. Peran giberelin diketahui mampu meningkatkan aktivitas enzim amilase. Sitokinin, yang akan berinteraksi dengan giberelin dan auksin untuk mematahkan dormansi biji. Selain itu, sitokinin juga mampu memicu pembelahan sel dan pembentukan organ. Fitohormon yang berfungsi sebagai penghambat perkecambahan antara lain : Etilene, yang berperan menghambat transportasi auksin secara basipetal dan lateral. Adanya etilen dapat menyebabkan rendahnya konsentrasi auksin dalam jaringan. Meskipun begitu, pada tanaman, etilene juga mampu menstimulasi perpanjangan batang, koleoptil dan mesokotil. Asam absisat (ABA), yang bersifat menghambat perkecambahan dengan menstimulasi dormansi benih. Selain itu, asam absisat akan menghambat proses pertumbuhan tunas. Faktor Eksternal yang mempengaruhi proses perkecambahan adalah : Air salah satu syarat penting bagi berlangsungnya proses perkecambahan benih. Fungsi air pada perkecambahan biji antara lain; Air yang diserap oleh biji berguna untuk melunakkan kulit biji dan menyebabkan pengembangan embrio dan endosperma hingga kulit biji pecah atau robek. Air juga berfungsi sebagai fasilitas masuknya oksigen ke dalam biji melalui dinding sel yang di-imbibisi oleh air sehingga gas dapat masuk ke dalam sel secara difusi. Selain itu, air juga berguna untuk mengencerkan protoplasma sehingga dapat mengaktifkan sejumlah proses fisiologis dalam embrio seperti pencernaan, pernapasan, asimilasi dan pertumbuhan. Proses-proses tersebut tidak akan berjalan secara normal, apabila protoplasma tidak mengandung air yang cukup. Air juga Sebagai alat transportasi larutan makanan dari endosperma kepada titik tumbuh pada embryonic axis, yang mana diperlukan untuk membentuk protoplasma baru. Temperatur merupakan syarat penting yang kedua bagi perkecambahan benih. Tetapi ini tidak bersifat mutlak sama seperti kebutuhan terhadap air untuk perkecambahan, dimana biji membutuhkan suatu level hydration minimum yang bersifat khusus untuk perkecambahan. Dalam proses perkecambahan dikenal adanya tiga titik suhu kritis yang berbeda yang akan dialami oleh benih. Dan tiga titik suhu kritis tersebut dikenal dengan istilah suhu cardinal yang terdiri atas pertama, suhu minimum, yakni suhu terkecil dimana proses perkecambahan biji tidak akan terjadi selama periode waktu perkecambahan. Bagi kebanyakan benih tanaman, termasuk kisaran suhu minimumnya antara 0 – 5oC. Jika benih berada di tempat yang bersuhu rendah seperti itu, maka kemungkinan besar benih akan gagal berkecambah atau tetap tumbuh namun dalam keadaan yang abnormal. Kedua, suhu optimum yakni suhu dimana kecepatan dan persentase biji yang berkecambah berada pada posisi tertinggi selama proses perkecambahan berlangsung. Temperatur ini merupakan temperatur yang menguntungkan bagi berlangsungnya perkecambahan benih. Suhu optimum berkisar antara 26,5 – 35oC. Serta yang ketiga adalah suhu maksimum, yakni suhu tertinggi dimana perkecambahan masih mungkin untuk berlangsung secara normal. Suhu maksimum umumnya berkisar antara 30 – 40oC. Suhu diatas maksimum biasanya mematikan biji, karena keadaan tersebut menyebabkan mesin metabolisme biji menjadi non aktif sehingga biji menjadi busuk dan mati. Faktor oksigen berkaitan dengan proses respirasi. Pada saat perkecambahan berlangsung, proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan karbon dioksida, air dan energi yang berupa panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan mengakibatkan terhambatnya proses perkecambahan benih. Perkecambahan biji dipengaruhi oleh komposisi udara sekitarnya. Umumnya biji akan berkecambah pada kondisi udara yang mengandung 20% O2 dan 0,03% CO2 memiliki kemampuan untuk berkecambah pada keadaan yang kurang oksigen. Biji dapat berkecambah baik di tempat dengan kelembaban tinggi, bahkan bisa berkecambah 4 – 5 cm di bawah permukaan air, hanya saja yang lebih dahulu akan keluar bukan radikel melainkan plumulanya. 4. Cahaya Hubungan antara pengaruh cahaya dan perkecambahan benih dikontrol oleh suatu sistem pigmen yang dikenal sebagai fitokrom, yang tersusun dari chromophore dan protein. Chromophore adalah bagian yang peka pada cahaya. Fitokrom memiliki dua bentuk yang sifatnya reversible (bolak-balik) yaitu fitokrom merah yang mengabsorbsi sinar merah dan fitokrom infra merah yang mengabsorbsi sinar infra merah. Bila pada benih yang sedang berimbibisi diberikan cahaya merah, maka fitokrom merah akan berubah menjadi fitokrom infra merah, yang mana menimbulkan reaksi yang merangsang perkecambahan. Sebaliknya bila diberikan cahaya infra merah, fitokrom infra merah akan berubah menjadi fitokrom merah yang kemudian menimbulkan reaksi yang menghambat perkecambahan. Dalam keadaan tanpa cahaya, dengan adanya oksigen dan temperatur yang rendah, proses perubahan itu akan berlangsung lambat. Pada keadaan di alam, cahaya merah mendominasi cahaya infra merah sehingga pigmen fitokrom diubah ke bentuk fitokrom infra merah yang aktif.
Perkecambahan
Label: ftp
PERKECAMBAHAN BENIH DAN PERTUMBUHAN TANAMAN TOMAT CHERRY
EFEK MEDAN ELEKTROMAGNETIK PADA PERKECAMBAHAN BENIH DAN PERTUMBUHAN TANAMAN TOMAT CHERRY (Lycopersicum cerasifornme) Kadek Maharani Kemala Dewi, NIM : 0611305006. 2011. Efek Medan Elektromagnetik pada Perkecambahan Benih dan Pertumbuhan Tanaman Tomat Cherry (Lycopersicum cerasifornme). Dibawah bimbingan Ir. I Made Anom Sutrisna Wijaya, M.App.Sc.,Ph.D. sebagai pembimbing I dan Dr. Ir. I Wayan Widia, M. SIE. sebagai pembimbing II. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemaparan medan elektromagnetik terhadap perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman tomat cherry serta mengetahui tegangan dan waktu pemaparan medan magnet yang tepat sehingga menghasilkan pertumbuhan tanaman tomat cherry yang terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola percobaan faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor yang pertama yaitu tegangan terdiri dari 1000, 1500 dan 2000 volt, sedangkan faktor kedua yaitu lama pemaparan medan elektromagnetik terdiri dari 24, 48, 64, 92 dan 120 jam. Kata kunci: pemaparan medan elektromagnetik, perkecambahan benih, pertumbuhan, tomat cherry Kadek Maharani Kemala Dewi, NIM : 0611305006. 2011. The Effect Of Electromagnetic Field Exposure On Seed Germination And Growth Of Cherry Tomato Plants (Lycopersicum cerasifornme). Supervised by ABSTRACT The research were to observe the effect of electromagnetic field exposure on seed germination and growth of cherry tomato plants, and to determine the appropriate voltage and exposure time that resulted the best growth of cherry tomato plant.The experimental design used was randomized block design (RBD) with two factors. The first factor was the voltage of 1000, 1500 and 2000 volts, while the second factor was duration of exposure time fields consist of 24, 48, 64, 92 and 120 hours. Data were analyzed with ANOVA, followed by DMRT test if the treatment effect on reality. At germination, the results showed that, The higher the voltage and time used in the exposure resulted in a decrease of germination percentage cherry tomatoes. On plant growth, the results indicate that higher the voltage and the longer used in the exposure caused the slow growth of cherry tomato plants.The best germination and plant growth generated in the magnetic field exposure voltage 1500 volts with a duration of exposure 24 hours, yielding an average of 100% germination percentage, germination growth rate of 9.09% / day, seedling dry weight of 8.02%, higher cherry tomato plants by 235 cm, the number of cherry tomato plant leaf blade 319.50, the amount of interest generated at 33.17 and the long roots that produced by 67.84 cm. Keywords: electromagnetic field exposure, seed germination, growth, cherry tomatoes RINGKASAN Dalam sel-sel tanaman terdapat partikel-partikel yang bermuatan listrik dan memiliki massa. Partikel-partikel tersebut bergerak dengan kecepatan tertentu. Interaksi antara medan elektromagnetik luar dengan partikel-partikel menyebabkan terserapnya energi medan elektromagnetik. Sebagai hasil dari interaksi selanjutnya energi tersebut diubah ke dalam bentuk senyawa kimia sehingga dapat mempercepat proses-proses perkecambahan dan pertumbuhan tanaman ( Aladjadjiyan, 2007). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu tegangan (W) 1000, 1500 dan 2000 volt. Sedangkan faktor kedua yaitu lama pemaparan medan elektromagnetik (T) 24, 48, 72, 96 dan 120 jam. Masing-masing perlakuan dan kontrol diulang sebanyak 2 kali, sehingga diperoleh 36 unit percobaan dan untuk sampel kontrol disimbolkan dengan simbol C. Tahapan pelaksanaan I difokuskan pada pengamatan perkecambahan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemaparan medan elektromagnetik terhadap perkecambahan benih tanaman tomat cherry. Sedangkan penelitian tahap II difokuskan pada pengamatan pertumbuhan tanaman tomat cherry dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemaparan medan elektromagnetik terhadap pertumbuhan tanaman tomat cherry. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tegangan dan waktu yang digunakan pada pemaparan mengakibatkan adanya penurunan terhadap persentase perkecambahan benih dan penurunan terhadap pertumbuhan tanaman tomat cherry. Kemudian
Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, kemudian dilanjutkan dengan uji DMRT apabila perlakuan berpengaruh nyata. Hasil penelitian menyatakan bahwa semakin tinggi tegangan dan waktu yang digunakan pada pemaparan mengakibatkan adanya penurunan terhadap persentase perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman tomat cherry. Perkecambahan dan pertumbuhan tanaman terbaik dihasilkan pada pemaparan medan elektromagnetik tegangan 1500 volt dengan lama pemaparan 24 jam yang memberikan dampak positif terhadap perkecambahan dan pertumbuhan tanaman tomat cherry dengan rata-rata persentase perkecambahan sebesar 100%, laju pertumbuhan perkecambahan sebesar 9,09%/hari, berat kering kecambah sebesar 8,02%, tinggi tanaman tomat cherry sebesar 235 cm, jumlah daun tanaman tomat cherry 319,50 helai, jumlah bunga yang dihasilkan sebesar 33,17 dan panjang akar yang dihasilkan sebesar 67,84cm.
Ir. I Made. Anom Sutrisna Wijaya,M.App.Sc, Ph.D. as first supervisor and Dr. Ir. I Wayan Widia, M. SIE. as second supervisor.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan sidik ragam dan apabila terdapat pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diamati, maka dilanjutkan dengan uji DMRT.
perkecambahan dan pertumbuhan tanaman terbaik dihasilkan pada pemaparan medan elektromagnetik tegangan 1500 volt dengan lama pemaparan 24 jam yang memberikan dampak positif terhadap perkecambahan dan pertumbuhan tanaman tomat cherry dengan rata-rata persentase perkecambahan sebesar 100 %, laju pertumbuhan perkecambahan sebesar 9,09 %/hari, berat kering kecambah sebesar 8,02 %, tinggi tanaman tomat cherry sebesar 235 cm, jumlah daun tanaman tomat cherry 319,50 helai, jumlah bunga yang dihasilkan sebesar 33,17 dan panjang akar yang dihasilkan sebesar 67,84 cm.
Label: ftp
PERKECAMBAHAN BENIH DAN PERTUMBUHAN TANAMAN TOMAT CHERRY
EFEK MEDAN ELEKTROMAGNETIK PADA PERKECAMBAHAN BENIH DAN PERTUMBUHAN TANAMAN TOMAT CHERRY (Lycopersicum cerasifornme) Kadek Maharani Kemala Dewi, NIM : 0611305006. 2011. Efek Medan Elektromagnetik pada Perkecambahan Benih dan Pertumbuhan Tanaman Tomat Cherry (Lycopersicum cerasifornme). Dibawah bimbingan Ir. I Made Anom Sutrisna Wijaya, M.App.Sc.,Ph.D. sebagai pembimbing I dan Dr. Ir. I Wayan Widia, M. SIE. sebagai pembimbing II. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemaparan medan elektromagnetik terhadap perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman tomat cherry serta mengetahui tegangan dan waktu pemaparan medan magnet yang tepat sehingga menghasilkan pertumbuhan tanaman tomat cherry yang terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan pola percobaan faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor yang pertama yaitu tegangan terdiri dari 1000, 1500 dan 2000 volt, sedangkan faktor kedua yaitu lama pemaparan medan elektromagnetik terdiri dari 24, 48, 64, 92 dan 120 jam. Kata kunci: pemaparan medan elektromagnetik, perkecambahan benih, pertumbuhan, tomat cherry Kadek Maharani Kemala Dewi, NIM : 0611305006. 2011. The Effect Of Electromagnetic Field Exposure On Seed Germination And Growth Of Cherry Tomato Plants (Lycopersicum cerasifornme). Supervised by ABSTRACT The research were to observe the effect of electromagnetic field exposure on seed germination and growth of cherry tomato plants, and to determine the appropriate voltage and exposure time that resulted the best growth of cherry tomato plant.The experimental design used was randomized block design (RBD) with two factors. The first factor was the voltage of 1000, 1500 and 2000 volts, while the second factor was duration of exposure time fields consist of 24, 48, 64, 92 and 120 hours. Data were analyzed with ANOVA, followed by DMRT test if the treatment effect on reality. At germination, the results showed that, The higher the voltage and time used in the exposure resulted in a decrease of germination percentage cherry tomatoes. On plant growth, the results indicate that higher the voltage and the longer used in the exposure caused the slow growth of cherry tomato plants.The best germination and plant growth generated in the magnetic field exposure voltage 1500 volts with a duration of exposure 24 hours, yielding an average of 100% germination percentage, germination growth rate of 9.09% / day, seedling dry weight of 8.02%, higher cherry tomato plants by 235 cm, the number of cherry tomato plant leaf blade 319.50, the amount of interest generated at 33.17 and the long roots that produced by 67.84 cm. Keywords: electromagnetic field exposure, seed germination, growth, cherry tomatoes RINGKASAN Dalam sel-sel tanaman terdapat partikel-partikel yang bermuatan listrik dan memiliki massa. Partikel-partikel tersebut bergerak dengan kecepatan tertentu. Interaksi antara medan elektromagnetik luar dengan partikel-partikel menyebabkan terserapnya energi medan elektromagnetik. Sebagai hasil dari interaksi selanjutnya energi tersebut diubah ke dalam bentuk senyawa kimia sehingga dapat mempercepat proses-proses perkecambahan dan pertumbuhan tanaman ( Aladjadjiyan, 2007). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu tegangan (W) 1000, 1500 dan 2000 volt. Sedangkan faktor kedua yaitu lama pemaparan medan elektromagnetik (T) 24, 48, 72, 96 dan 120 jam. Masing-masing perlakuan dan kontrol diulang sebanyak 2 kali, sehingga diperoleh 36 unit percobaan dan untuk sampel kontrol disimbolkan dengan simbol C. Tahapan pelaksanaan I difokuskan pada pengamatan perkecambahan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemaparan medan elektromagnetik terhadap perkecambahan benih tanaman tomat cherry. Sedangkan penelitian tahap II difokuskan pada pengamatan pertumbuhan tanaman tomat cherry dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemaparan medan elektromagnetik terhadap pertumbuhan tanaman tomat cherry. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tegangan dan waktu yang digunakan pada pemaparan mengakibatkan adanya penurunan terhadap persentase perkecambahan benih dan penurunan terhadap pertumbuhan tanaman tomat cherry. Kemudian
Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam, kemudian dilanjutkan dengan uji DMRT apabila perlakuan berpengaruh nyata. Hasil penelitian menyatakan bahwa semakin tinggi tegangan dan waktu yang digunakan pada pemaparan mengakibatkan adanya penurunan terhadap persentase perkecambahan benih dan pertumbuhan tanaman tomat cherry. Perkecambahan dan pertumbuhan tanaman terbaik dihasilkan pada pemaparan medan elektromagnetik tegangan 1500 volt dengan lama pemaparan 24 jam yang memberikan dampak positif terhadap perkecambahan dan pertumbuhan tanaman tomat cherry dengan rata-rata persentase perkecambahan sebesar 100%, laju pertumbuhan perkecambahan sebesar 9,09%/hari, berat kering kecambah sebesar 8,02%, tinggi tanaman tomat cherry sebesar 235 cm, jumlah daun tanaman tomat cherry 319,50 helai, jumlah bunga yang dihasilkan sebesar 33,17 dan panjang akar yang dihasilkan sebesar 67,84cm.
Ir. I Made. Anom Sutrisna Wijaya,M.App.Sc, Ph.D. as first supervisor and Dr. Ir. I Wayan Widia, M. SIE. as second supervisor.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan sidik ragam dan apabila terdapat pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diamati, maka dilanjutkan dengan uji DMRT.
perkecambahan dan pertumbuhan tanaman terbaik dihasilkan pada pemaparan medan elektromagnetik tegangan 1500 volt dengan lama pemaparan 24 jam yang memberikan dampak positif terhadap perkecambahan dan pertumbuhan tanaman tomat cherry dengan rata-rata persentase perkecambahan sebesar 100 %, laju pertumbuhan perkecambahan sebesar 9,09 %/hari, berat kering kecambah sebesar 8,02 %, tinggi tanaman tomat cherry sebesar 235 cm, jumlah daun tanaman tomat cherry 319,50 helai, jumlah bunga yang dihasilkan sebesar 33,17 dan panjang akar yang dihasilkan sebesar 67,84 cm.
Label: ftp
BAHAN PENGAWET DAN PEMANIS PADA JAMBU BIJI
BAHAN PENGAWET (As. Benzoat) DAN BAHAN PEMANIS (Sakarin, Siklamat dan Aspartam) PADA PRODUK JUS JAMBU BIJI "Guava" (Psidium guajava) ABSTRAK I Wayan Eka Nadi . 0611205007. 2011. Identifikasi Bahan Pengawet (As. Benzoat) dan Bahan Pemanis (Sakarin, Sikalamat dan Asapartam) Pada Produk Jus Jambu Biji " Guava" (Psidium guajava) Yang Beredar di Wilayah Kota Denpasar. Di bawah bimbingan Ir. Sri Mulyani, MP dan Dr. Ir. G. P. Ganda Putra, MP. Penelitian ini bertujuan untuk (1). Menentukan ada tidaknya bahan pengawet asam benzoat dan bahan pemanis saakarin, siklamat dan aspartam pada produk jus jambu yang beredar di kota denpasar. (2). Menentukan jenis dan jumlah bahan pengawet asam benzoat dan bahan pemanis sakarin, siklamat dan aspartam yang terkandung pada produk apakah sudah sesuai dengan SNI 01-6693-2004. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei yang terdiri dari penentuan populasi, Pengambilan sampel dan analisis laboratorium. Jumlah sampel yang yang dianalisis adalah sebanyak 42 sampel yang kan di analisis. Merek sampael yang sama akan dihomogenkan terlebih dahulu, setelah itu baru dianalisis. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa produk jus jambu yang bermerek Yang beredar di wilayah kota Denpasar tidak ada yang mengandung bahan pemanis buatan (Sakarin, Siklamat dan Aspartam). Ini membuktikan bahwa memang benar produk jus jambu tersebut tidak mengandung pemanis buatan sesuai dengan yang di cantumkan pada masing-masing kemasan produk jus jambu tersebut. Hasil penelitian Bahan Pengawet Asam Benzoat adalah kusuma (0,04%), Okky jelly (0,01%) dan sampel yang lain menunjukkan negatif atau tidak ada puncak. Ini membuktikan bahwa pengawet yang terkandung dalam produk jus jambu yang bermerk sudah sesuai dengan SNI 01-6693-2004. Kata Kunci : Produk Jus Jambu, Sakarin, Aspartam, Siklamat dan Asam Benzoat. ABSTRACT I Wayan Eka Nadi. 0611205007. 2011. Preservative Material Identification (As.Benzoate) and Materials Sweetener (Saccharin, Cyclamate and Aspartame) At Guava Juice Products " Guava" (Psidium Guajapa) The circulating in the Territory of Denpasar. Under the guidance of Ir. Sri Mulyani, MP and Dr. Ir. G. P. Ganda Putra, MP. This research aims to (1). Determine the presence of or absence of preservatives benzoic aic and the sweetener saccharin, cyclamate and aspartame on guava juice products circulating in the city of Denpasar. (2). Specify the type and amont of preservatives benzoic acid and the sweetener saccharin, cyclamate and aspartame contained in the products, if it was in accordance with SNI O1-6693-2004. This research was conducted, by survey method consists of determining the population, sampling and laboratory analysis. The number of samples analiyzed are as many as 42 samples. Brand of the same sample will be mixed in advance, after the new analysis. Results showed that guava juice products are branded guava, which circulated in the city of Denpasar, Which contain no artificial sweetener (Saccharin, Cyclamate and Aspartame). This proves that it is true guava juice products do not contain artificial sweetener in accordancewith the imprinted on each product pakckage that guava juice. Materials research results preservative Benzoic acid is a brand kusuma sample (0,04%), Okky jelly (0,01%) and other samples showed negative or no peak. This proves that the preservatives contained in guava juice products, which that the preservatives accordance with SNI 01-6693-2004. Keywords : Guava juice products, Saccharin, Aspartame, Cyclamate and Benzoid acid. RINGKASAN Salah satu produk jus buah yang yang beredar di pasaran dan banyak digemari masyrakat akhir-akhir ini adalah jus jambu. Hal ini berkaitan dengan manfaat produk ini sebagai minuman untuk penderita penyakit demam berdarah. Kandungan Fe pada jambu mampu meningkatkan hemoglobin darah, sehingga produk ini di sarankan untuk dikonsumsi oleh penderita penyakit demam berdarah, (Andri , 2008). Pertumbuhan pasar minuman jus setiap tahunnya mencapai 15 hingga 20%. Beberapa perusahan yang memproduksi jus jambu misalnya, Unilever dengan produk Buavita dan Gogo, Coca-cola punya Minute Mid Pulpy Orange, sementara Sosro dengan produk Choice Juice. PT. Ultrajaya Milk Industry Trading Company, Tbk, merupakan salah satu industri pengolahan yang memproduksi jus buah yang pangsa pasarnya lebih dari 62% total katagori jus UHT, (Anonimus, 2009). Seperti sifat jus buah pada umumnya, produk jus jambu cepat mengalami kerusakan, sehingga produk-produk jus yang ada di pasaran biasanya ditambahkan bahan pengawet dan untuk effisiensi biaya produksi perusahaan biasanya juga menambahkan bahan pemanis. Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemanis sintetis yang kini banyak berkembang di Indonesia adalah sakarin, siklamat dan aspartam. Dari ketiga jenis bahan pemanis tersebut semuanya pernah mengalami kontroversi dalam penggunannya. Bahan pengawet dan bahan pemanis banyak digunakan untuk tujuan mengurangi biaya produksi dalam pembuatan berbagai makanan, seperti sirup, jenang, getuk dan lain-lain. Sampai saat ini masih di perdebatkan mengenai bahaya pemakaian bahan pengawet dan pemanis buatan, terutama masalah sifat karsinorganik. Sudah terbukti bahwa pemakaian pemanis dan pengawet yang cukup banyak dan terus menerus dalam percobaan binatang dapat menimbulkan kanker (Tranggono et al.,1990). Dicurigai minuman jus jambu dalam kemasan gelas plastik yang sering dikonsumsi oleh anak-anak mengandung bahan pengawet dan bahan pemanis yang berlebihan. Terbukti pernah terjadi kasus yaitu anak-anak sakit sehabis mengkonsumsi minuman tersebut. Dari pristiwa tersebut dan dari manfaat yang dimiliki oleh minuman jus jambu yaitu berfungsi untuk kesehatan maka mutu produknya harus sesuai dengan persyaratan yang berlaku atau aturan yang sudah di keluarkan oleh Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 dan BPOM 2004. Untuk memastikan kandungan bahan pengawet dan bahan pemanis pada jus jambu, maka perlu diadakan penelitian pada produk jus jambu yang beredar di pasaran agar kandungan bahan pengawet dan bahan pemanisnya sesuai dengan standar mutu yang berlaku. Penelitian uji bahan pengawet dan pemanis pada jus jambu yang beredar di kota Denpasar bertujuan untuk mengetahui jumlah bahan pengawet dan bahan pemanis yang terkandung pada produk tersebut dan apakah sudah sesuai dengan standar mutu yang sesuai. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei yang terdiri dari penentuan populasi, Pengambilan sampel dan analisis laboratorium. Jumlah sampel yang yang dianalisis adalah sebanyak 42 sampel yang kan di analisis. Merek sampael yang sama akan dihomogenkan terlebih dahulu, setelah itu baru dianalisis. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa produk jus jambu yang bermerek Yang beredar di wilayah kota Denpasar tidak ada yang mengandung bahan pemanis buatan (Sakarin, Siklamat dan Aspartam). Ini membuktikan bahwa memang benar produk jus jambu tersebut tidak mengandung pemanis buatan sesuai dengan yang di cantumkan pada masing-masing kemasan produk jus jambu tersebut. Hasil penelitian asam benzoat menunjukkan bahwa hanya dua merk produk jus jambu yang dapat diketahui dengan menggunakan alat HPLC Kolom C 18, yaitu merk kusuma drink sebanyak 0,04% dan Okky jelly drink sebanyak 0,01%. Produk yang lainnya menunjukkan negatif atau tidak ada puncak. Hasil ini didapat dengan menggunakan perhitungan yaitu Konsentrasi = Luas area sampel / Luas area standar X %Standar. Dari hasil yang didapat pada penelitian bahan pengawet asam benzoat dan bahan pemanis buatan sakarin, siklamat dan aspartam dapat disimpulkan bahwa produk jus jambu biji yang bermerek yang beredar di kota Denpasar tidak mengandung bahan pemanis buatan dan produk jus jambu biji yang bermerek yang mengandung bahan pengawet asam benzoat adalah sampel merk kusuma drink (0,04%) dan sampel merk Okky jelly drink (0,01%). Sampel yang lain menunjukkan negatif atau tidak ada puncak. Ini menunjukkan bahwa kandungan bahan pengawet dan bahan pemanis butan pada produk jus jambu yang bermerk yang beredar di kota Denpasar sudah sesuai dengan SNI 01-6693-2004. I. PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Pada saat ini banyak jenis minuman yang beredar di pasaran, salah satunya adalah minuman jus buah. Jus buah banyak di jumpai di swalayan-swalayan, dan mempunyai potensi yang baik. Minuman jus buah mempunyai manfaat untuk kesehatan dan kesegaran badan. Beberapa manfaat yang dimiliki oleh jus buah diantaranya yaitu dapat memperlancar pencernaan dan mencegah konstipasi, sebagai antioksidan, mencegah dan mengobati sariawan dan menurunkan kolestrol. Terdapatnya beberapa jenis minuman yang beredar di pasaran, akhir-akhir ini menunjukkan bahwa prospek pemasaran jus buah meningkat, (Andri, 2008). Salah satu produk jus buah yang yang beredar di pasaran dan banyak digemari masyrakat akhir-akhir ini adalah jus jambu. Hal ini berkaitan dengan manfaat produk ini sebagai minuman untuk penderita penyakit demam berdarah. Kandungan Fe pada jambu mampu meningkatkan hemoglobin darah, sehingga produk ini di sarankan untuk dikonsumsi oleh penderita penyakit demam berdarah, (Andri, 2008). Pertumbuhan pasar minuman jus setiap tahunnya mencapai 15 hingga 20%. Beberapa perusahan yang memproduksi jus jambu misalnya, Unilever dengan produk Buavita dan Gogo, Coca-cola punya Minute Mid Pulpy Orange, sementara Sosro dengan produk Choice Juice. PT. Ultrajaya Milk Industry Trading Company, Tbk, merupakan salah satu industri pengolahan yang memproduksi jus buah yang pangsa pasarnya lebih dari 62% total katagori jus UHT, (Anonimus, 2009). Seperti sifat jus buah pada umumnya, produk jus jambu cepat mengalami kerusakan, sehingga produk-produk jus yang ada di pasaran biasanya ditambahkan bahan pengawet dan untuk effisiensi biaya produksi perusahaan biasanya juga menambahkan bahan pemanis. Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemanis sintetis yang kini banyak berkembang di Indonesia adalah sakarin, siklamat dan aspartam. Dari ketiga jenis bahan pemanis tersebut semuanya pernah mengalami kontroversi dalam penggunannya. Bahan pengawet dan bahan pemanis banyak digunakan untuk tujuan mengurangi biaya produksi dalam pembuatan berbagai makanan, seperti sirup, jenang, getuk dan lain-lain. Sampai saat ini masih di perdebatkan mengenai bahaya pemakaian bahan pengawet dan pemanis buatan, terutama masalah sifat karsinorganik. Sudah terbukti bahwa pemakaian pemanis dan pengawet yang cukup banyak dan terus menerus dalam percobaan binatang dapat menimbulkan kanker (Tranggono et al.,1990). Dicurigai minuman jus jambu dalam kemasan gelas plastik yang sering dikonsumsi oleh anak-anak mengandung bahan pengawet dan bahan pemanis yang berlebihan. Terbukti pernah terjadi kasus yaitu anak-anak sakit sehabis mengkonsumsi minuman tersebut. Dari pristiwa tersebut dan dari manfaat yang dimiliki oleh minuman jus jambu yaitu berfungsi untuk kesehatan maka mutu produknya harus sesuai dengan persyaratan yang berlaku atau aturan yang sudah di keluarkan oleh Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 dan BPOM 2004. Untuk memastikan kandungan bahan pengawet dan bahan pemanis pada jus jambu, maka perlu diadakan penelitian pada produk jus jambu yang beredar di pasaran agar kandungan bahan pengawet dan bahan pemanisnya sesuai dengan standar mutu yang berlaku. Penelitian uji bahan pengawet dan pemanis pada jus jambu yang beredar di kota Denpasar bertujuan untuk mengetahui jumlah bahan pengawet dan bahan pemanis yang terkandung pada produk tersebut dan apakah sudah sesuai dengan standar mutu yang sesuai. 1.2. PERUMUSAN MASALAH Perumusan masalah yang akan di teliti yaitu : 1.3. HIPOTESIS Hipotesis dalam penelitian ini adalah produk minuman jus jambu yang beredar di wilayah kota Denpasar diduga mengandung bahan pengawet Asam Benzoat dan bahan pemanis Sakarin, siklamat dan aspartam dengan jumlah yang tidak sesuai dengan SNI 01-6693-2004. 1.4. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian adalah untuk : 1.5. MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian diharapkan dapat berguna sebagai imformasi bagi instansi terkait melaksanakan pembinaan kepada masyarakat, khususnya perusahaan atau industri yang memproduksi minuman jus buah khsusnya Jus Jambu, agar lebih memperhatikan pemakaian bahan pengawet dan pemanis terutama jenis serta jumlah bahan pengawet dan pemanis yang aman dan sudah sesuai dengan standar mutu yang di tentukan oleh SNI No. 01-6693-2004.demi menjaga keselamatan dan kesehatan konsumen.
Label: ftp
CYSTOTOMY
Cystotomy adalah prosedur operasi untuk membuka kantong kencing. Cystotomy dilakukan terutama untuk mengeluarkan kalkuli yang ada pada kantong kencing dan uretra, tumor kandung kemih, trauma akibat kecelakaan atau tertusuk oleh benda runcing, untuk tujuan biopsy, memperbaiki ureter ektopik dan kandung kemih pecah, dan membantu dalam diagnosis untuk mengobati infeksi saluran kencing. Sebelum dilakukan cystotomy perlu evaluasi kondisi umum pasien dan adanya tanda-tanda uremia, oleh karena itu terapi cairan sangat perlu diberikan untuk menunjang status pasien. Cystotomy adalah salah satu prosedur bedah yang paling umum dilakukan pada anjing. Kadang-kadang, pada anjing terbentuk kristal abnormal dalam urin mereka yang menyebabkan infeksi sekunder untuk penyakit sistemik, infeksi kandung kemih, atau ketidakseimbangan gizi. Kristal-kristal dapat tumbuh menjadi batu padat yang dapat menyebabkan iritasi kandung kemih atau infeksi. Selain itu, batu bisa masuk dalam uretra dan mengganggu proses perkencingan pada hewan. Keberadaan batu dapat menyebabkan hewan melakukan buang air kecil dalam volume kecil namun sering, menyebabkan kencing darah kebiruan, atau tidak mampu buang air kecil. ureter ektopik juga diobati melalui suatu cystotomy. Operasi cystotomy biasanya dilakukan apabila terjadi: Dalam beberapa kasus yang parah, infeksi non-responsif saluran kemih mungkin perlu untuk membuka kandung kemih untuk mendapatkan contoh jaringan untuk dikultur. Ini akan membantu dokter hewan dalam menentukan mikroorganisme yang menyebabkan infeksi. Sebelum tindakan operasi dilaksanakan, hewan terlebih dahulu anamnese, pemeriksaan fisik umum seperti complete blood count (CBC), test biokimia serum, urinalysis dan EKG. Selain itu radiograph (x-ray) atau abdominal ultrasound dapat dilakukan untuk mengetahui penyebab penyakit, dan dipuasakan. Karena melibatkan pembukaan cavum abdominal, hewan harus diberikan anestesi umum (inhalasi) atau anestesi epidural, sebelum dilakukan operasi. Anastesi umum dibutuhkan dalam operasi ini untuk membuat hewan tidak sadar, control lengkap terhadap rasa sakit, dan relaksan otot. Selain itu anastesi perlu dijaga dengan memberikan isoflourance + oksigen 100% melalui selang. Hewan disiapkan secara aseptic untuk pembedahan dengan pendekatan insisi pada garis median posterior abdomen, tetapi pada anjing jantan bedah dilakukan agak ke samping. Setelah hewan teranestesi, hewan dibaringkan dengan posisi rebah dorsal, rambutnya dicukur dari perut dengan gunting, dan selanjutnya dipasangi kain penutup operasi (drap). Insisi dilakukan pada garis median posterior abdomen berturut-turut insisi pada kulit, jaringan subkutan, linea alba. Tepi linea alba kiri dan kanan dijepit dengan allis forcep dan sedikit diangkat keatas untuk memudahkan identifikasi kantong kencing. Kantong kencing diangkat ke permukaan dan direfleksikan ke caudal sehingga yang diinsisi nantinya adalah permukaan bagian dorsal dari kantong kencing. Pasang jahitan stay suture pada kedua sisi lateral dari kantong kencing untuk memudahkan insisi pada kantong kencing. Setelah membuka kandung kemih, batu (uroliths) dikeluarkan dari kandung kemih. Jika dicurigai mengalami tumor, sampel dari dinding kandung kemih dapat dihilangkan (dipotong) dan dikirim ke laboratorium untuk diteliti. Ketika infeksi diduga bagian dari dinding kandung kemih dan sampel dari batu yang telah dikeluarkan yang disiapkan untuk dikultur (untuk menentukan apa bakteri yang tumbuh) dan kepekaan antibiotik (untuk menentukan antibiotik bakteri yang paling sensitif terhadap bakteri). Apabila kantong kencing penuh berisi urin perlu dilakukan aspirasi urin agar tidak tumpah kedalam rongga abdomen. Insisi kantong kencing dibuka selanjutnya dilakukan sesuai dengan tujuan operasinya. Bilamana ada kalkuli lakukan pengeluaran kalkuli seluruhnya. Kateterisasi perlu dilakukan dari urethra untuk mendorong kalkuli masuk kedalam kantong kencing. Bilas kantong kencing sampai bersih dengan menggunakan NaCl fisiologis. Bila akibat trauma pada kantong kencing perlu dibuat luka baru pada kantong kencing sebelum dilakukan penjahitan. Penutupan pada kantong kencing dilakukan dengan dua lapis jahitan yaitu sederhana menerus dan dibantu dengan jahitan pola lembert menerus menggunakan benang chromic cat gut. Dinding abdomen ditutup berturut-turut dari linea alba dengan benang vicryl 2-0 dengan pola sederhana terputus, jaringan subkutan diijahit dengan pola sederhana menerus menggunakan benang plain cat gut 3-0 atau 2-0 dan kulit luar dijahit dengan benang non absorbable pola sederhana terputus. Pada prinsipnya hampir sama dengan nephrotomy, dimana produksi urin terus dimonitor dengan disertai pemberian cairan infuse Ringer Laktat. Analisis kalkuli perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya kalkuli ulangan. Untuk memberikan kenyamanan pada hewan, biasanya diberikan obat anti-inflamasi atau anti nyeri (analgesik), seperti fentanyl (2-5 mg/kg/jam) dalam infuse sangat efektif untuk mengurangi sakit selama beberapa hari setelah operasi dan antibiotic juga diberikan sehari 3 kali selama 5 hari atau lebih sampai tidak terjadi infeksi. Seringkali dilakukan pemasangan kateter selama 1-3 hari. Luka tempat incise harus dijaga kebersihannya dengan memberikan antiseptika setiap hari. Terapi penunjang bisa diberikan untuk mempercepat proses kesembuhan, seperti: membatasi gerak yang berlebihan untuk menjaga jahitan tidak lepas. Jika hewan peliharaan mengalami batu di kandung kemih atau uretra, maka perlu dilakukan diet. Diet bisa bervariasi berdasarkan jenis spesifik batu yang terdapat dalam batu ginjal. Amati sayatan dua kali sehari jika terjadi kemerahan, pembengkakan atau radang dari luka insisi. Perhatikan warna urin dan apakah tampaknya menjadi darah-biruan. Juga memperhatikan apakah pada saat hewan buang air kecil tampaknya mudah atau sulit. Jika terjadi komplikasi segera lakukan tindakan. Jahitan pada kulit biasanya sudah bisa dibuka 7-14 hari setelah operasi. Walaupun kantong kemih strukturnya lemah, insisi pada kantung kemih akan cepat sembuh, dan kesembuhannya dapat mencapai 100% dalam 14-21 hari. kantung kemih akan membesar setelah prsedur cystotomy, hal ini terjadi karena adanya kombinasi regenerasi ephitelial, sintesis dan remodeling jaringan luka, hipertropi dan proliferasi otot polos, dan kantung kemih yang meregang. Komplikasi yang umum terjadi biasanya berupa pendarahan, infeksi post-operasi, keluarnya urin yang tidak dapat terkontrol, dan dehisensi (terbukanya luka kembali). Secara keseluruhan komplikasi jarang terjadi, akan tetapi komplikasi yang serius dapat menyebabkan kematian sehingga diperlukan tindakan lebih lanjut. Dalam kasus yang jarang terjadi, kandung kemih mungkin tidak sembuh dengan baik setelah cystotomy dan urin mungkin mulai bocor ke perut. Jika hal ini terjadi hewan peliharaan mungkin mulai merasa kurang nyaman dan menunjukan tanda-tanda berupa perut yang buncit. Jika hewan tidak membaik setelah operasi atau mulai merasa buruk (nafsu makan berkurang, lesu) segera lakukan pemeriksaan untuk menguatkan diagnosa penyebab infeksi atau gangguan. Jika sudah bisa dipastikan bahwa kandung kemih bocor, maka bisa segera dilakukan operasi untuk memperbaiki. Daftar Pustaka Anonim. What is Cystotomy in Dogs?. http://tbeah.com/cystotomy-dog_procedure.html Diamond D. Dr. Cystotomy in Dogs. http://www.petplace.com/dogs/cystotomy-in-dogs/page1.aspx. Martin, Corole. 2007. Textbook of Veterinary SurgicalNrsing. Elsivier Slatter, Douglas H. 2002. Textbook of Small Animal Surgery. Elsivier Sudisma I.Gst.Ngr, dkk. 2006. Ilmu Bedah Veteriner dan Teknik Operasi. Palawa Sari. Denpasar. Tranquill, William J. 2004. Pain Management For SmallarumalnPractitioner. Teton New Medica
PENANGANAN IKAN SEGAR
PENANGANAN IKAN SEGAR Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang mudah membusuk. Hal ini dapat dilihat pada ikan-ikan yang baru ditangkap dalam beberapa jam saja kalau tidak diberi perlakuan atau penanganan yang tepat maka ikan tersebut mutunya menurun. Penanganan ikan basah harus dimulai segera setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya, dengan perlakuan suhu rendah dan memeperhatikan faktor kebersihan dan kesehatan. Penanganan Ikan Basah di Laut Cara Pembongkaran Hasil Tangkapan Penanganan Ikan Basah di Darat Penanganan Selama Pengangkutan dan Distribusi Ciri-ciri Ikan Segar Ciri-ciri ikan yang jelek :
Label: uncategories
PENGARUH PEMBERIAN SUSU BERKALSIUM TINGGI TERHADAP KADAR KALSIUM DARAH DAN KEPADATAN TULANG
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pengaruh pemberian susu berkalsium tinggi dan susu segar pada kadar kalsium darah dan kepadatan tulang remaja pria. Kepadatan tulang yang diukur meliputi kepadatan tulang pinggang, punggung, kepala, lengan, rusuk, panggul dan kaki.
Penelitian dilaksanakan bertempat di Asrama Putra TPB IPB. Analisis darah dilakukan di Laboratorium SEAMEO TROPMED FK-UI Jakarta dan Laboratorium PMI Bogor, sedangkan pengukuran kepadatan tulang dilakukan di Unit Densitometry Klinik Teratai RSCM Jakarta. Kepadatan tulang yang diukur meliputi tulang bagian pinggang, punggung, kepala, lengan, rusuk, panggul dan kaki. Unit percobaan yang digunakan sebanyak 55 orang mahasiswa putra TPB IPB berusia 17 – 19 tahun dan mempunyai IMT < 18,5.
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Tersarang yaitu volume susu tersarang dalan jenis susu. Penelitian ini terdiri dari 2 faktor yaitu jenis susu dengan dua taraf dan volume susu dengan tiga taraf. Masing-masing jenis susu (susu berkalsium tinggi, susu segar) diberikan dalam beberapa taraf volume (porsi) pemberian yaitu 250 ml , 500 ml dan 750 ml selama 16 minggu (4 bulan). Selain faktor jenis dan volume susu, faktor lain yang dianggap sebagai faktor penggangu (confounding factor) yang diukur adalah kadar kalsium dan kepadatan tulang awal, aktivitas olahraga dan tingkat konsumsi energi zat gizi (protein, kalsium, fosfor, besi, vitamin D dan vitamin C).
Oleh:
SURYONO
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2007
COVER
Prakata
Ringkasan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Susu adalah bahan pangan yang dikenal kaya akan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh manusia. Konsumsi susu pada saat remaja terutama dimaksudkan untuk memperkuat tulang sehingga tulang lebih padat, tidak rapuh dan tidak mudah terkena risiko osteoporosis pada saat usia lanjut. Agar tulang menjadi kuat, diperlukan asupan zat gizi yang cukup terutama kalsium. Kalsium merupakan zat utama yang diperlukan dalam pembentukan tulang, dan zat gizi ini antara lain dapat diperoleh dari susu. Pada susu juga terkandung zat-zat gizi yang berperan dalam pembentukan tulang seperti protein, fosfor, vitamin D, vitamin C dan besi. Selain zat-zat gizi tersebut, susu juga masih mengandung zat-zat gizi penting lainnya yang dapat meningkatkan status gizi.
Masalah Penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Konsumsi Pangan dan Kecukupan Gizi
Konsumsi pangan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun beragam, yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat (Sedioetama 1996). Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang selanjutnya bertindak menyediakan energi bagi tubuh, mengatur proses metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan (Harper et al.1986).
Susu sebagai Sumber Kalsium
Defisiensi dan Kecukupan Kalsium
Mekanisme Pengaturan Kalsium dalam Tubuh
Kalsium dan Kepadatan Tulang
Vitamin D dan Kepadatan Tulang
Vitamin C dan Kepadatan Tulang
Fosfor dan Kepadatan Tulang
Protein dan Kepadatan Tulang
Energi dan Kepadatan Tulang
Zat Besi dan Kepadatan Tulang
Penyakit Osteoporosis
Pola Makan dan Osteoporosis
KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
Kerangka Pemikiran
Konsumsi pangan merupakan faktor penentu yang penting dalam menentukan status kepadatan tulang khususnya pada saat pertumbuhan seperti pada masa remaja. Kepadatan tulang akan semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia. Menurut Khomsan (2004), status gizi remaja sangat ditentukan oleh pola makannya dalam pencapaian pertumbuhan optimal sesuai kemampuan genetis yang dimilikinya. Pada remaja pria yang memiliki status gizi baik, perawakan tubuh yang optimal dicapai pada saat usia 18-20 tahun.
Hipotesis
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama 6 bulan dengan intervensi pemberian susu selama 4 bulan, bertempat di Asrama Putra Tingkat Persiapan Bersama Institut Pertanian Bogor (TPB IPB). Pemeriksaan darah dilaksanakan di Laboratorium SEAMEO-TROPMED FK-UI Jakarta dan Laboratorium PMI Bogor. Pemeriksaan kepadatan tulang dilakukan di Klinik Teratai Unit Densitometry RSCM Jakarta.
Penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan ”Feeding Program for Needy Students” kerjasama SEAFAST Centre dengan Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia dan Departemen Ilmu & Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Desain Penelitian
Bahan Percobaan
Pelaksanaan Penelitian
Analisis Data
Keterbatasan Penelitian
Batasan Operasional
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Unit Percobaan
Karakteristik unit percobaan yang diambil dalam penelitian ini meliputi usia saat mengikuti penelitian, daerah asal dan rata-rata jumlah kiriman uang dari orang tua setiap bulan. Jumlah unit percobaan yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 55 orang. Data-data dari hasil penelitian ini selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Usia
Daerah Asal
Jumlah Uang Kiriman Orang Tua
Konsumsi dan Tingkat Konsumsi Zat Gizi
Konsumsi Zat Gizi
Tingkat Konsumsi Zat Gizi
Kadar Kalsium Darah
Kepadatan Tulang
Kepadatan Tulang Pinggang
Kepadatan Tulang Punggung
Kepadatan Tulang Kepala
Kepadatan Tulang Lengan
Kepadatan Tulang Rusuk
Kepadatan Tulang Panggul
Kepadatan Tulang Kaki
PEMBAHASAN UMUM
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh jenis susu (susu berkalsium tinggi, susu segar) dan volume susu terhadap kadar kalsium darah dan kepadatan tulang remaja pria. Jenis susu yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis susu komersial yang sudah beredar dan dikonsumsi oleh masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang dilakukan di Indonesia.
Tingkat konsumsi zat gizi pada umumnya terjadi peningkatan setelah perlakuan dilakukan. Hal ini karena selain dari makanan sehari-hari yang dikonsumsi, juga karena adanya kontribusi dari susu yang diberikan dan adanya pemberian makanan tambahan. Peningkatan terjadi pada kelompok energi, protein, kalsium dan vitamin D. Pada kelompok vitamin C, sebagian besar masih di bawah normal (<70%) dan pada kelompok zat besi, rataan tingkat konsumsi seluruh kelompok perlakuan juga masih di bawah normal. Kondisi ini dapat terjadi karena susu ataupun makanan tambahan yang diberikan bukan merupakan sumber vitamin C dan zat besi. Peningkatan yang lebih tinggi terdapat pada kelompok protein, kalsium dan vitamin D karena adanya kontribusi yang cukup tinggi dar susu yang diberikan. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena kekurangan vitamin C maupun zat besi dalam waktu lama dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga lebih mudah terserang penyakit khususnya yang berhubungan denga tulang.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
Pemberian kalsium tinggi berpengaruh sangat nyata (p<0,01)>0,05) terhadap kadar kalsium darah dan kepadatan tulang kepala, lengan, rusuk, panggul dan kaki.
Pemberian susu berkalsium tinggi selama 4 bulan sebanyak 750 ml (diminum 3 X sehari @ 250 ml) menghasilkan kepadatan tulang pinggang dan punggung lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian susu sebanyak 500 ml (diminum 2 X sehari @ 250 ml) dan 250 ml (diminum 1 X sehari @ 250 ml).
Pemberian susu segar tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap kadar kalsium dan kepadatan tulang (pinggang, punggung, kepala, lengan, rusuk, panggul dan kaki).
DAFTAR PUSTAKA
Label: Artikel
Teknologi Pupuk Mikrob
Teknologi Pupuk Mikrob Multiguna Menunjang Keberlanjutan Sistem Produksi Kedelai
(Technology of Multipurpose Microbial Fertilizer Supporting Sustainable System of Soybean Production)
RASTI SARASWATI
Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Jln. Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111; Tel. 062-251-337975 pes. 224; Faks. 062-251-338820
Key word: microbial fertilizer, inoculant, soybean Read more.....
Label: Mikrobiologi
Cendawan Mikoriza Arbuskula pada Kacang Tanah dan Kedelai
Pemberian Inokulan Campuran Beberapa Cendawan Mikoriza Arbuskula pada Kacang Tanah dan Kedelai
(The Application of Mixed Arbuscular Mycorrhizal Fungi Inoculant to Peanut and Soybean)
M. RAHMANSYAH & SUCIATMIH
Puslitbang Biologi LIPI, Jln. Ir. Juanda, Bogor 16122 ; Tel. 062-251-324006, Faks. 062-251-325854
Key word: inoculant, arbuscular mycorrhizal fungi, peanut, soybean Read more.....
Label: Mikrobiologi
Jamur Merang
Cendawan Kontaminan Dominan pada Bedengan Jamur Merang dan Interaksinya dengan Jamur Merang secara in vitro
(Dominant Fungi Contaminating the Beds of Rice Straw Mushroom and Their Interaction with Straw Mushroom in vitro)
OKKY SETYAWATI DHARMAPUTRA1,2, AGUSTIN WYDIA GUNAWAN1, RINI WULANDARI1 & TRIADI BASUKI1
1Jurusan Biologi, FMIPA, IPB, Jln. Raya Pajajaran, Bogor 16144
2Seameo Biotrop, Kotak Pos 116, Bogor 16001
3Puslitbang Bioteknologi LIPI, Cibinong 16911
Key word: antagonist, mesophylic fungi, Volvariella volvaceae Read more.....
Label: Mikrobiologi
Proses Fermentasi Biji Lamtoro-Gung
Proses Fermentasi Biji Lamtoro-Gung Dengan Rhyzopus oryzae
(Fermentation Process of Leucaena Seed with Rhyzopus oryzae)
KOMARI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Jln. Dr. Semeru, Bogor 16122
Key word: fermentation process, leucana seed, Rhyzopus oryzae Read more.....
Label: Mikrobiologi
Pembiakan Spesimen Urin
Penggunaan "MicurR-BT" sebagai Uji Awal Sebelum Pembiakan Spesimen Urin untuk Isolasi Etiologi Infeksi Saluran Kemih
(MicurR-BT As an Indicator of Antibiotic in the Urine Before Bacterial Isolation in Urinary Tract Infection)
PRATIWI SUDARMONO & TERTIA HUTABARAT
Bagian Mikrobiologi FK UI, Jln. Pegangsaan Timur No. 16, Jakarta 10320, Tel. 062-021-310086, Faks. 062-021-3100810
Key word: urinary tract infection Read more.....
Label: Mikrobiologi
Deteksi Virus Dengue Tipe 2 dengan Cara Hibridisasi in situ
Deteksi Virus Dengue Tipe 2 dengan Cara Hibridisasi in situ
(Detection of Tipe 2 Dengue Virus by in situ Hibridization)
MAKSUM RADJI, AMIN SOEBANDRIO, MIRAWATI SUDIRO & PRATIWI SUDARMONO
Bagian Mikrobiologi FK UI, Jln. Pegangsaan Timur No. 16, Jakarta 10320 Tel. 062-021-3100806, Faks. 062-021-3100810, Email: amin0207@rad.net.id
Key word: hybridization, digoxygenin (DIG), pathogenesis Read more.....
Label: Mikrobiologi
Campuran Kapas dan Kelaras Pisang sebagai Media Tanam Jamur Merang
Campuran Kapas dan Kelaras Pisang sebagai Media Tanam Jamur Merang
(Mixture of Cotton Waste and Dried Banana Leaves as the Media for Straw Mushroom Cultivation)
METTY IRAWATI, AGUSTIN WYDIA GUNAWAN & OKKY SETYAWATI DHARMAPUTRA
Laboratorium Mikologi, Jurusan BiologiFMIPA IPB, Jln. Raya Pajajaran, Bogor 16144
Key word: straw mushroom, media for straw mushroom cultivation, cotton waste, dried banana leaves
Read more.....
Label: Mikrobiologi
MAKROSKOPIK, MIKROSKOPIK, URIN
Penilaian Hasil Pemeriksaan Urin dr. R. Wirawan, dr. S. Immanuel, dr. R. Dharma Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM, Jakarta Sebelum menilai hasil analisa urin, perlu diketahui tentang proses pembentukan urin. Urin merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml permenit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urin permenit. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain untuk mengetahui kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan kelainan dipelbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uterus dan lain-lain. FAKTOR-FAKTOR YANG TURUT MEMPENGARUHI SUSUNAN URIN Untuk mendapatkan hasil analisa urin yang baik perlu diperhatikan beberapa faktor antara lain persiapan penderita dan cara pengambilan contoh urin. Beberapa hal perlu diperhatikan dalam persiapan penderita untuk analisa urin misalnya pada pemeriksaan glukosa urin sebaiknya penderita jangan makan zat reduktor seperti vitamin C, karena zat tersebut dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara reduksi dan hasil negatif palsu dengan cara enzimatik. Pada pemeriksaan urobilin, urobilinogen dan bilirubin sebaiknya tidak diberikan obat yang memberi warna pada urin, seperti vitamin B2 (riboflavin), pyridium dan lain lain. Pada tes kehamilan dianjurkan agar Susunan urin tidak banyak berbeda dari hari ke hari, tetapi pada pihak lain mungkin banyak berbeda dari waktu ke waktu sepanjang hari, karena itu penting untuk mengambil contoh urin menurut tujuan pemeriksaan. Untuk pemeriksaan urin seperti pemeriksaan protein, glukosa dan sedimen dapat dipergunakan urin sewaktu , ialah urin yang dikeluarkan pada Pada penderita yang sedang haid atau "leucorrhoe" untuk mencegah kontaminasi dianjurkan pengambilan contoh urin dengan cara clean voided specimen yaitu dengan melakukan kateterisasi, punksi suprapubik atau pengambilan urin midstream dimana urin yang pertama keluar tidak ditampung, tapi urin yang keluar kemudian ditampung dan yang terakhir tidak turut ditampung. PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK, MIKROSKOPIK DAN KIMIA URIN Dikenal pemeriksaan urin rutin dan lengkap. Yang dimaksud dengan pemeriksaan urin rutin adalah pemeriksaan makroskopik, mikroskopik dan kimia urin yang meliputi pemeriksaan protein dan glukosa. Sedangkan yang dimaksud dengan pemeriksaan urin lengkap adalah pemeriksaan urin rutin yang dilengkapi dengan pemeriksaan benda keton, bilirubin, urobilinogen, darah samar dan nitrit. PEMERIKSAAN MAKROSKOPIK. Yang diperiksa adalah volume. warna, kejernihan, berat jenis, bau dan pH urin. Pengukuran volume urin berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kuantitatif atau semi kuantitatif suatu zat dalam urin, dan untuk menentukan kelainan dalam keseimbangan cairan badan. Pengukuran volume urin yang dikerjakan bersama dengan berat jenis urin bermanfaat untuk menentukan gangguan faal ginjal. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi volume urin seperti umur, berat badan, jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang bersangkutan. Rata-rata didaerah tropik volume urin dalam 24 jam antara 800--1300 ml untuk orang dewasa. Bila didapatkan volume urin selama 24 jam. Lebih dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuri. Poliuri ini mungkin terjadi pada keadaan fisiologik seperti pemasukan cairan yang berlebihan, nervositas, minuman yang mempunyai efek diuretika. Selain itu poliuri dapat pula disebabkan oleh perubahan patologik seperti diabetes mellitus, diabetes insipidus, hipertensi, pengeluaran cairan dari edema. Bila volume urin selama 24 jam 300--750 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri. Keadaan ini mungkin didapat pada diarrhea, muntah - muntah, deman edema, nefritis menahun. Anuri adalah suatu keadaan dimana jumlah urin selama 24 jam kurang dari 300 ml. Hal ini mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan ginjal. Jumlah urin siang 12 jam dalam keadaan normal 2 sampai 4 kali lebih banyak dari urin malam 12 jam. Bila perbandingan tersebut terbalik disebut nokturia, seperti didapat pada diabetes mellitus. Pemeriksaan terhadap warna urin mempunyai makna karena kadang-kadang dapat menunjukkan kelainan klinik. Warna urin dinyatakan dengan tidak berwarna, kuning muda, kuning, kuning tua, kuning bercampur merah, merah, coklat, hijau, putih susu dan sebagainya. Warna urin dipengaruhi oleh kepekatan urin, obat yang dimakan maupun makanan. Pada umumnya warna ditentukan oleh kepekatan urin, makin banyak diuresa makin muda warna urin itu. Warna normal urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam zat warna seperti urochrom, urobilin dan porphyrin. Bila didapatkan perubahan warna mungkin disebabkan oleh zat warna yang normal ada dalam jumlah besar, seperti urobilin menyebabkan warna coklat. Disamping itu perlu dipertimbangkan kemungkinan adanya zat warna abnormal, seperti hemoglobin yang menyebabkan warna merah dan bilirubin yang menyebabkan warna coklat. Warna urin yang dapat disebabkan oleh jenis makanan atau obat yang diberikan kepada orang sakit seperti obat dirivat fenol yang memberikan warna coklat kehitaman pada urin. Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat sepertijernih, agak keruh, keruh atau sangat keruh. Biasanya urin segar pada orang normal jernih. Kekeruhan ringan disebut nubeculayangterdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit yang lambat laun mengendap. Dapat pula disebabkan oleh urat amorf, fosfat amorf yang mengendap dan bakteri dari botol penampung. Urin yang telah keruh pada waktu dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel, leukosit dan eritrosit dalam jumlah banyak. Pemeriksaan berat jenis urin bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan memakai falling, drop, gravimetri, menggunakan pikno meter, refraktometer dan reagens pita'. Berat jenis urin sewaktu pada orang normal antara 1,003 - 1,030. Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urin makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun. Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan adalah bau yang abnormal. Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, pate, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada ketonuria. Bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa pengawet. Adanya urin yang berbau busuk dari semula dapat berasal dari perombakan protein dalam saluran kemih umpamanya pada karsinoma saluran kemih. Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urin normal berkisar antar 4,5 - 8,0. Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya urin bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman Proteus yang dapat merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urin bersifat basa. Dalam pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urin dipertahankan asam, sedangkan untuk mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat pH urin sebaiknya dipertahankan basa. PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu pemeriksaan sedimen urin. Ini panting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya penyakit. Urin yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet formalin. Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X) yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK. Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB. Jumlah unsur sedimen bermakna dilaporkan secara semi kuantitatif, yaitu jumlah rata-rata per LPK untuk silinder dan per LPB untuk eritrosit dan leukosit. Unsur sedimen yang kurang bermakna seperti epitel atau kristal cukup dilaporkan dengan +(ada), ++ (banyak) dan +++ (banyak sekali). Lazimnya unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu unsur organik dan tak organik. Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan, sperma, bakteri, parasit dan yang tak organik tidak berasal dari sesuatu organ atau jaringan .seperti urat amorf dan kristal Eritrosit atau leukosit didalam sedimen urin mungkin terdapat dalam urin wanita yang haid atau berasal dari saluran kernih. Dalam keadaan normal tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin, sedangkan leukosit hanya terdapat 0 -- 5/LPK dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari genitalia. Adanya eritrosit dalam urin disebut hematuria. Hematuria dapat disebabkan oleh perdarahan dalam saluran kemih, seperti infark ginjal, nephrolithiasis, infeksi saluran kemih dan pada penyakit dengan diatesa hemoragik. Terdapatnya leukosit dalam jumlah banyak di urin disebut piuria. Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau kontaminasi dengan sekret vagina pada penderita dengan fluor lobus. yang berjalan lanjut didapat silinder berbutir dan silinder lilin. atau kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin. rti pada infeksi, radang dan batu dalam saluran kemih. Pada sindroma nefrotik benda keton melebihi 40 mg/dl. Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. Glukosuria dapat terjadi karena Dalam urin terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13-hidroksi butirat. Karena aseton mudah menguap, maka urin yang diperiksa harus segar. Pemeriksaan benda keton dengan reagens pita ini dapat mendeteksi asam asetoasetat leblih dari 5-10 mg/dl, tetapi cara ini kurang peka. Untuk aseton dan tidak bereaksi dengan asam beta hidroksi butirat. Hasil positif palsu mungkin didapat bila urin mengandung bromsulphthalein, metabolit levodopa dan pengawet 8-hidroksi-quinoline yang berlebihan.
mengurangi minum supaya urin menjadi lebih pekat.
waktu yang tidak ditentukan dengan khusus, kadang kadang bila unsur sedimen tidak ditemukan karena urin sewaktu terlalu encer, maka dianjurkan memakai urin pagi. Urin pagi ialah urin yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari, urin ini baik untuk pemeriksaan berat jenis, protein sedimen dan tes kehamilan.
Label: kedokteran hewan, Veteriner

